Bahan Sekolah
Minggu, 25 Agustus 2019
Nats : Amsal 4: 1-4
Nasehat
Ayah
I.
Pengantar
Sebuah kalimat sering kita dengar anak adalah
anugerah dari Tuhan, dan Anak-anak bagaikan kertas putih. Ayah dan ibunyalah
yang terutama mewarnai mereka. Apakah hitam, putih, merah, apapun warnanya.
Sehingga kadang kita mendengar, melihat, dan merasakan bagaimana mereka
berkata, berekspresi, dan melakukan sesuatu dengan gaya yang sungguh mirip
ayah atau ibunya. Artinya anak bertumbuh dalam kesehariannya memerlukan
pendidikan dan bimbingan dari orang tua. Dalam mendidik anak-anak dapat
dilakukan dengan berbagai metode, baik berupa nasihat, ilmu, dan petunjuk.
Harapan satu-satunya adalah supaya anak tersebut bertumbuh menjadi pribadi yang
baik, dewasa dan bertanggungjawab. Salomo sendiri bertumbuh dalam pengajaran
dan didikan dari ayahnya yang bernama Daud. Pengajaran dan didikan tersebut
begitu melekat padanya, dan kepribadiannya
tidak terlepas dari didikan yang sudah ditanamkan di dalam dirinya. Salomo bukan hanya mengingat tetapi gemar
untuk mengulangi didikan tersebut kepada anaknya dan anak-anak lainnya. Didikan
yang dimaksud adalah didikan mengajarkan anak-anak untuk takut akan Tuhan.
Pentingnya pendidikan anak juga dipertegas oleh Salomo dalam Amsal 29:17
“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan
mendatangkan sukacita kepadamu”. Hal ini menekankan pendidikan yang baik
terhadap anak maka akan menghasilkan karakter yang baik pula dari anak
tersebut.
II. Isi
Pada bagian perikop ini penekanan kotbah bukan untuk
orang tua tetapi bagaimana anak-anak memahami bahwa didikan dan pengajaran dari
orang tua salah satunya contoh didikan dari seorang ayah, sangat penting dalam menentukan
bagaimana anak tersebut bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi dewasa yang
baik. Pengajaran (Firman Tuhan), didikan ayah akan mempengaruhi kehidupan dan
kesuksesan mereka di masa mendatang. Sehingga ada beberapa hal yang perlu
dilakukan oleh anak untuk membuat mereka menjadi anak-anak yang sukses dan
bertumbuh berkarakter baik sesuai dengan Firman Tuhan.
1. Mendengarkan.
Mendengarkan akan membuat orang yang
mendengarkan nasihat tersebut semakin berakal budi dan mengerti tentang
jalan-jalan kehidupan dan membuatnya berhikmat. Tetapi orang yang tidak suka
mendengarkan nasihat maka ia akan hanyut dengan pikirannya sendiri yang
barangkali tidak membawanya ke arah hidup yang baik tetapi cenderung ke hal-hal
yang tidak positif. Seperti tanah yang
menyerap air, maka akan membuat tumbuhan yang di tanah tersebut berkembang.
Demikian juga nasihat yang didengar maka akan menghasilkan cara berpikir yang
baik.
2. Memperhatikan
didikan. Didikan tidak hanya di dengar tetapi diperhatikan. Maksudnya di sini,
didikan tersebut harus dilaksanakan dan dipraktekkan dalam kehidupannya
sehari-hari. Karena untuk bertumbuh tidak hanya mendengar tetapi dibutuhkan
tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3. Berpegang
pada petunjuk dan tidak meninggalkannya. Untuk selanjutnya selain daripada
mendengarkan nasihat dan mempraktekkannya, diperlukan sikap untuk terus
memeliharanya ajaran dan didikan tersebut dengan tekun. Jadi tidak berlaku
hanya sekali saja, tetapi berulang-ulang dan terus menerus memeliharanya di
dalam kehidupan sehari-hari. untuk bisa berpegang pada petunjuk tersebut,
pertama sekali harus menanamkannya di dalam hatinya lalu berpegang terus
menerus pada nasihat tersebut.
Pada ayat 4 “aku
diajari ayahku, katanya kepadaku: “biarlah hatimu memegang
perkataanku;berpegang pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup”.
Pengalaman hidup Salomo, memberikan sebuah contoh bahwa didikan dan nasihat
dari orang tua memberikan pengaruh dalam menentukan masa depan anak. Hal
tersebut sudah dibuktikan oleh salomo sendiri, walaupun hikmat dan kepintaran
Salomo sendiri adalah anugerah dari Tuhan tetapi ia sendiri mengakui bahwa
pengaruh dari didikan orang tua sangat besar dalam menentukan karakter dan
kesuksesannya sebagai raja. Oleh sebab itu penting sekali mendengarkan nasihat
dari orang tua (ayah) karena nasihat itu baik untuk membentuk kepribadian yang
baik dan menentukan masa depan anak-anak.
III.
Refleksi
Takut akan Tuhan adalah
permulaan pengetahuan, penulis Amsal ini ingin mengungkapkan bahwa takut akan
Tuhan akan menjiwai seluruh pendidikan yang mereka tempuh. Orang tua yang takut
akan Tuhan akan mengajarkan nasihat dan didikan tentang ketaatan kepada Firman
Tuhan, sehingga anak-anak yang mau mendengarkan nasihat dari orang tuanya akan
membuat mereka hidup di dalam Firman Tuhan tersebut dan membuat mereka menjadi
anak-anak yang berkarakter baik serta berhasil dalam kehidupan sehari-sehari. Pada zaman sekarang ini banyak
tawaran-tawaran pendidikan kepada anak-anak kita mulai dari play group, TK
sampai S3 dan seterusnya, dan orangtua berlomba-lomba menyekolahkan
anak-anaknya setinggi mungkin supaya menjadi anak yang pintar. Tetapi pintar
secara Intelektual tapi kurang dalam Spiritual dan Emosional maka kurang
berhasil. Jadi ilmu yang ditempuh oleh anak-anak kita harus terlebih dahulu
disertai takut akan Tuhan.
IV. Penerapan
Kelas kecil
- Menjelaskan
menyebutkan dan menjelaskan tema
- Menyebutkan
perbuatan baik apa yang dilakukan oleh ayahnya.
- Menyebutkan
apa nasihat yang mereka dengar dari ayahnya.
Kelas besar
-
Menjelaskan arti tema dan hubungannya
dengan nasihat. Ayah yang baik adalah ayah yang selalu memberikan nasihat.
-
Nasehat dan larangan apa yang sering
orangtua sebutkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
-
Apa faedah, manfaat yang dapat mereka
rasakan jikalau mereka mendengarkan nasihat dari orang tua. Anak-anak dapat ditantang
untuk memberikan membagikan pengalaman saat mereka mau mendengar dan melakukan
nasihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar