Bahan sermon GSM, 12
Januari 2019
Nats : Kejadian 1:28
Tema
: Memelihara bumi
Pengantar
Hari penciptaan yang
terakhir dari semua benda dan mahluk adalah hari ke-enam yakni manusia. Mengapa
manusia diciptakan terakhir kalinya karena manusia merupakan ciptaan yang
istimewa dan terhormat. Manusia
diciptakan serupa dan segambar dengan Allah. Maksudnya adalah bahwa Allah
menjadikan manusia menurut gambar dan
rupa Allah (ayat.26), mengungkapkan bahwa hal yang sama dan mirip terletak pada
3 hal berikut:
-
Dalam sifat pembawaannya. Maksudnya
adalah sifat pembawaan jiwa dan roh manusia, sehingga memiliki kemampuan untuk
mengerti, memahami, berkehendak, dan kekuatan bergerak untuk melakukan hal-hal
yang baik karena di dalam roh manusia yang menjadi pelita Allah.
-
Dalam tempat dan wewenangnya. Artinya
adalah manusia memiliki sebuah wewenang, kuasa menjadi wakil Allah untuk
menguasai mahluk-mahluk yang lebih rendah (hewan dan tumbuhan dsb).
-
Dalam kemurnian dan kelurusannya.
Manusia dianugerahi keinginan dan kebiasaan untuk melakukan kehendak Allah.
secara naluri alamiah manusia sebenarnya diperuntukkan untuk melakukan dan
hidup dan tunduk di bawah otoritas Allah.
Manusia sebagai Imago
Dei, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah tidak dibiarkan hidup begitu
saja, dan hidup semaunya saja tetapi memiliki tujuan khusus yakni; bahwa
manusia diciptakan untuk mengerti, menguasai, dan membudidayakan alam (ay. 26); mencerminkan sifat, kasih, dan kekudusan,
keadilan, kebaikan dan kemuliaan Allah (ay. 27); manusia dicipta untuk menjadi
pelaku dan pelaksana perintah/kehendak Allah. Pada perikop minggu ini, secara
khusus membahas tentang tugas dan tanggung jawab manusia untuk “memelihara
bumi”.
Penjelasan Nas
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah
untuk menjaga dan memelihara bumi ciptaan Allah itu. Dalam nas hari ini ada
tiga hal yang ditugaskan Allah kepada Adam dan Hawa dalam rangka memelihara
bumi ini, yakni: Pertama, beranak-cuculah. Tujuan
pertama dari penciptaan manusia adalah supaya bertambah banyak. Kata
”beranakcuculah dan bertambah banyak”, memiliki dua pengertian. (1) reproduksi
fisik, yaitu melahirkan anak sehingga lewat kelahiran anak itu akan
memperbanyak gambar dan rupa Allah. (2) Reproduksi non fisik, yaitu
menghadirkan karakter Allah dalam diri manusia itu sehingga orang di sekitarnya
bisa merasakan kehadiran Allah, dan inilah tujuan Allah menciptakan manusia.
Perintah beranak cucu ini bukan berarti pablas membuat anak sebanyak-banyaknya,
tetapi harus juga memikirkan segala kebutuhan yang berkaitan dengan hal
tersebut. Kita harus bertangunggjawab membesarkan dan mendidik keturuan kita
dengan memiliki karakter Allah di dalam diri dan kehidupan mereka.
Kedua, Allah memberikan otoritas kepada
manusia untuk menaklukkan bumi, termasuk segala yang ada di
dalamnya.“...penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,” Jadi jangan mau ditaklukkan
oleh apa saja yang ada dalam dunia ini tetapi justru kita memiliki otoritas
untuk menaklukkannya. Kata “taklukkanlah” (subdue)berasal dari kata
Ibrani, kabash.Sesungguhnya ini berlaku manakala pihak
yang ditaklukkan itu sudah berada dalam kondisi buruk atau jahat (hostile).
Taklukkan apabila bumi sudah menjadi ancaman. Ini menandai bahwa
alam sepatutnya diupayakan sebagai lingkungan yang memberi daya dukung. Namun
pemahaman ini justru dimanfaatkan oleh kita (manusia) untuk menyalahgunakan
kebaikan dan kesuburan alam pula.Perintah ini bukan diartikan untuk menguasai
bumi dengan sebebas-bebasnya. Kita juga harus menjaga ekosistem bumi agar bumi
tidak rusak dan kita bisa hidup dan tinggal di bumi ini dengan damai dan
sejahtera.
Ketiga, Allah menempatkan manusia menjadi
wakilnya dalam dunia ini. Kata
berkuasa menunjuk kepada wewenang yang diberikan Tuhan untuk mengelola dunia
ini dengan segala apa yang ada di dalamnya. Hanya kepada manusia Allah
memberikan wewenang-Nya. Jadi, jangan pernah salah gunakan wewenang itu. Kata
“berkuasalah” (dominion atau rule) dari kata radah.
Suatu kata kerajaan, pemerintahan yang bertahta dari seorang raja.
Kata radah menunjukkan pola pemerintahan yang adil dari sang raja.
Berkuasa bukan berarti kita mau bertidak semau gue tetapi harus bertindak yang
adil dan bijaksana tanpa harus mendominasi hidup orang lain. Kita tidak
merampas hak dan bagian orang lain. Berkuasa artinya kita menggunakan kekuatan
dan jabatan kita untuk mensejahterakan hidup manusia dan memuliakan
Allah.
Kesimpulan
Melalui nas perikop
kotbah ini, ASM diajak untuk bersyukur bahwa Allah telah menciptakan mereka
dengan tujuan khusus dan Allah memiliki rencan indah untuk manusia ciptaan-Nya.
Maksudnya adalah bahwa semua manusia, anak sekolah minggu memiliki kesempatan
untuk memakai, menikmati ciptaan Tuhan disamping itu juga memiliki tugas dan
tanggung jawab untuk memelihara bumi (benda, mahluk hidup dan lingkungan),
supaya kelestarian dan keutuhannya terjamin. Bumi yang terpelihara akan membawa
dampak dan manfaat yang baik juga terhadap manusia. Hal-hal praktis yang dapat
dilakukan oleh manusia adalah membuang sampah pada tempatnya, mengurangi
penggunaan kertas dan tisu, mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon,
mengurangi penggunaan listrik dan sebagainya. Hal-hal sederhana ini dapat
dilakukan di dalam sehari-hari yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan
bumi.
Penerapan
Kelas kecil :
-
Menyebutkan tema
-
Menyebutkan apa tugas anak sekolah
minggu menurut teks alkitab
-
Gambar perbandingan lingkungan yang
bersih terawat dengan gambar lingkungan banyak sampah dan tanyakan apa pendapat
mereka tentang segi keindahan, kesehatan, dan kenyamanan dari kedua gambar
tersebut.
-
Sebutkan hal-hal sederhana yang dapat
merek lakukan untuk “memelihara bumi”
Kelas besar :
-
Menyebutkan arti tema melalui icon/logo
“save earth”
-
Menyebutkan makna manusia diciptakan
menurut gambar dan rupa Allah berdasarkan nats Alkitab.
-
Sebutkan alasan manusia memiliki Tugas
dan tanggung jawab mememlihara bumi?
Apa dampak yang terjadi
ketika tidak memelihara bumi?
-
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk memlihara
bumi!

“manusia tidak bisa hidup tanpa air
tetapi air tidak membutuhkan manusia”