Selasa, 21 Januari 2020

Nasehat Ayah


Bahan Sekolah Minggu, 
"Nasehat Ayah"
 Amsal 4: 1-4


I.     Pengantar
Sebuah kalimat sering kita dengar anak adalah anugerah dari Tuhan, dan Anak-anak bagaikan kertas putih. Ayah dan ibunyalah yang terutama mewarnai mereka. Apakah hitam, putih, merah, apapun warnanya. Sehingga kadang kita mendengar, melihat, dan merasakan bagaimana mereka berkata, berekspresi, dan melakukan sesuatu dengan gaya yang sungguh mirip ayah  atau ibunya. Artinya anak bertumbuh dalam kesehariannya memerlukan pendidikan dan bimbingan dari orang tua. Dalam mendidik anak-anak dapat dilakukan dengan berbagai metode, baik berupa nasihat, ilmu, dan petunjuk. Harapan satu-satunya adalah supaya anak tersebut bertumbuh menjadi pribadi yang baik, dewasa dan bertanggungjawab. Salomo sendiri bertumbuh dalam pengajaran dan didikan dari ayahnya yang bernama Daud. Pengajaran dan didikan tersebut begitu melekat padanya, dan kepribadiannya  tidak terlepas dari didikan yang sudah ditanamkan di dalam dirinya.  Salomo bukan hanya mengingat tetapi gemar untuk mengulangi didikan tersebut kepada anaknya dan anak-anak lainnya. Didikan yang dimaksud adalah didikan mengajarkan anak-anak untuk takut akan Tuhan. Pentingnya pendidikan anak juga dipertegas oleh Salomo dalam Amsal 29:17 “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu”. Hal ini menekankan pendidikan yang baik terhadap anak maka akan menghasilkan karakter yang baik pula dari anak tersebut.
II.  Isi
Pada bagian perikop ini penekanan kotbah bukan untuk orang tua tetapi bagaimana anak-anak memahami bahwa didikan dan pengajaran dari orang tua salah satunya contoh didikan dari seorang ayah, sangat penting dalam menentukan bagaimana anak tersebut bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi dewasa yang baik.  Pengajaran (Firman Tuhan),  didikan ayah akan mempengaruhi kehidupan dan kesuksesan mereka di masa mendatang. Sehingga ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh anak untuk membuat mereka menjadi anak-anak yang sukses dan bertumbuh berkarakter baik sesuai dengan Firman Tuhan.
1.    Mendengarkan. Mendengarkan  akan membuat orang yang mendengarkan nasihat tersebut semakin berakal budi dan mengerti tentang jalan-jalan kehidupan dan membuatnya berhikmat. Tetapi orang yang tidak suka mendengarkan nasihat maka ia akan hanyut dengan pikirannya sendiri yang barangkali tidak membawanya ke arah hidup yang baik tetapi cenderung ke hal-hal yang tidak positif.  Seperti tanah yang menyerap air,  maka akan  membuat tumbuhan yang di tanah tersebut berkembang. Demikian juga nasihat yang didengar maka akan menghasilkan cara berpikir yang baik.
2.    Memperhatikan didikan. Didikan tidak hanya di dengar tetapi diperhatikan. Maksudnya di sini, didikan tersebut harus dilaksanakan dan dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari. Karena untuk bertumbuh tidak hanya mendengar tetapi dibutuhkan tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Berpegang pada petunjuk dan tidak meninggalkannya. Untuk selanjutnya selain daripada mendengarkan nasihat dan mempraktekkannya, diperlukan sikap untuk terus memeliharanya ajaran dan didikan tersebut dengan tekun. Jadi tidak berlaku hanya sekali saja, tetapi berulang-ulang dan terus menerus memeliharanya di dalam kehidupan sehari-hari. untuk bisa berpegang pada petunjuk tersebut, pertama sekali harus menanamkannya di dalam hatinya lalu berpegang terus menerus pada nasihat tersebut.
Pada ayat 4 “aku diajari ayahku, katanya kepadaku: “biarlah hatimu memegang perkataanku;berpegang pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup”. Pengalaman hidup Salomo, memberikan sebuah contoh bahwa didikan dan nasihat dari orang tua memberikan pengaruh dalam menentukan masa depan anak. Hal tersebut sudah dibuktikan oleh salomo sendiri, walaupun hikmat dan kepintaran Salomo sendiri adalah anugerah dari Tuhan tetapi ia sendiri mengakui bahwa pengaruh dari didikan orang tua sangat besar dalam menentukan karakter dan kesuksesannya sebagai raja. Oleh sebab itu penting sekali mendengarkan nasihat dari orang tua (ayah) karena nasihat itu baik untuk membentuk kepribadian yang baik dan menentukan masa depan anak-anak.


III.         Refleksi
Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, penulis Amsal ini ingin mengungkapkan bahwa takut akan Tuhan akan menjiwai seluruh pendidikan yang mereka tempuh. Orang tua yang takut akan Tuhan akan mengajarkan nasihat dan didikan tentang ketaatan kepada Firman Tuhan, sehingga anak-anak yang mau mendengarkan nasihat dari orang tuanya akan membuat mereka hidup di dalam Firman Tuhan tersebut dan membuat mereka menjadi anak-anak yang berkarakter baik serta  berhasil dalam kehidupan sehari-sehari. Pada zaman sekarang ini banyak tawaran-tawaran pendidikan kepada anak-anak kita mulai dari play group, TK sampai S3 dan seterusnya, dan orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin supaya menjadi anak yang pintar. Tetapi pintar secara Intelektual tapi kurang dalam Spiritual dan Emosional maka kurang berhasil. Jadi ilmu yang ditempuh oleh anak-anak kita harus terlebih dahulu disertai takut akan Tuhan.
IV.   Penerapan
Kelas kecil
-     Menjelaskan menyebutkan dan menjelaskan tema
-     Menyebutkan perbuatan baik apa yang dilakukan oleh ayahnya. 
-     Menyebutkan apa nasihat yang mereka dengar dari ayahnya.
Kelas besar
-  Menjelaskan arti tema dan hubungannya dengan nasihat. Ayah yang baik adalah ayah yang selalu memberikan nasihat.
-  Nasehat dan larangan apa yang sering orangtua sebutkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
-  Apa faedah, manfaat yang dapat mereka rasakan jikalau mereka mendengarkan nasihat dari orang tua. Anak-anak dapat ditantang untuk memberikan membagikan pengalaman saat mereka mau mendengar dan melakukan nasihat.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...