Selasa, 21 Januari 2020

Immanuel


Bahan sermon GSM, 22 Desember 2019
Nats                : Matius 1:18-23
Topik             : Immanuel

I.                   Pendahuluan
Pada bulan Desember kita akan disibukkan pada persiapan perayaan-perayaan natal yang mana natal itu adalah bagian dari karya penyelamatan Allah terhadap manusia,  sebagaimana yang dirancang Allah adalah peristiwa kemanusiaan yang berisi ketaatan, kekudusan dan kerendahan hati agar Juruselamat yang dinantikan itu hadir dalam kehidupan manusia. Allah menggunakan lembaga perkawinan untuk menyatakan rancanganNya yang baik bagi masa depan manusia. Allah terlibat dalam rencana dan pergumulan terdalam manusia dan memberikan jalan keluar sehingga kebahagiaan hidup menjadi bagian yang integral dalam hidup orang beriman.
II.  Pembahasan
          Kehamilan Maria adalah kehendak Allah untuk menggenapi nubuat keselamatan yang dikatakan nabi Yesaya 7:14  “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”. Maria menjadi anak dara istimewa sebab dipilih untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah yang merangkum seluruh sejarah manusia. Malaikat Tuhan ditugaskan untuk menyampaikan pesan sorgawi kepada Maria dan juga sekaligus tunangannya Yusuf.
           Maria secara pribadi sudah diberitahu bahwa dia beroleh kasih karunia Allah untuk mengandung bayi Yesus dengan pertolongan Roh Kudus seperti dicatat Lukas 1:30-33  “Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,   dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Maria merespon pesan sorgawi dengan taat dan dalam kerendahan hati berkata: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” (Lukas 1:38) Maria mengambil respon yang benar atas firman yang diterimanya. Tidak hanya Maria yang mengambil sikap iman yang benar, Yusuf tunangan Maria melakukan yang sama. Sebagai seorang pemuda yang bertunangan, Yusuf adalah pemuda yang memiliki karakter terpuji. Yusuf tahu hukum-hukum Tuhan sehingga dia tidak merusak pertunangannya dengan Maria dengan kesenangan daging. Yusuf menjaga saat pertunangan sebagai kesempatan mempersiapkan diri memasuki perkawinan yang kudus sebagaimana yang dikehendaki Allah.
          Kehamilan Maria akhirnya diketahui Yusuf. Peristiwa mengejutkan dan sama sekali tidak masuk dalam rencana hidupnya. Secara logika manusia,  Yusuf bermaksud mengakhiri pertunangannya dengan Maria. Yusuf tidak punya jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan masalahnya dengan Maria. Meskipun hatinya sangat mengasihi Maria, namun perceraian dengan cara diam-diam menjadi solusi terbaik untuk tidak mempermalukan nama Maria. Dalam tradisi Jahudi ada beberapa tahap yang dilakukan sebelum menuju perkawinan kudus.
1.      Pertunangan I (engagement).
Pertunangan I ini terjadi pada waktu dua orang yang diper­tunangkan itu masih kecil, dimana mereka dipertunangkan oleh orang tua mereka, dan mereka belum saling kenal. Pertunangan I ini bisa dibatalkan.
2.      Pertunangan II (bethrotal).
Pertunangan II ini terjadi setelah dua orang tadi sudah cukup umur. Pada saat pertunangan II ini mereka sudah disebut ‘suami istri’, tetapi mereka belum tinggal bersama dan mereka belum boleh melakukan hubungan sex. Perhatikan bahwa dalam ay 23,  disebutkan ‘bertunangan’ tetapi dalam ay 24nya disebut sebagai ‘istri’. Dalam tradisi Yahudi saat itu, pemutusan pertunangan II ini dianggap sebagai perceraian dan dianggap sebagai dosa. Pertunangan II ini hanya berlangsung 1 tahun.
3.      Pernikahan.
Pada saat itu, Yusuf dan Maria ada pada masa pertunangan II dan karena itu ay 18 bertentangan dengan ay 19,20,24.
Dalam beban pikiran berat, Allah memberikan jalan keluar kepada Yusuf dalam sebuah mimpi. Malaikat Tuhan berbicara kepada Yusuf untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istrinya dan meneguhkan hatinya bahwa kehamilan Maria merupakan kehendak Allah bagi manusia untuk menggenapi janji Allah menyelamatkan manusia.
Pesan malaikat Tuhan menjadi perintah Allah bagi Yusuf yang tidak hanya baik untuk didengar tetapi juga dilakukan. Di sinilah arti ketulusan hati Yusuf bahwa dia tidak hanya mempertimbangakan kebaikan Maria tetapi lebih mengutamakan kehendak Allah. Yusuf mengabaikan kepentingan pribadi dan reputasinya. Yusuf lebih memilih taat dengan rendah hati sembari menjaga kekudusan hidup untuk berjalan sesuai perintah Tuhan. Yusuf  mengambil Maria sebagai istrinya dan tetap memelihara kekudusan sampai bayi Yesus lahir. Tindakan Yusuf merupakan respon iman atas apa yang sedang dihadapinya dan menggunakan perspekif Allah sebagai terang dalam kehidupannya. Yusuf mengambil jalan hidup yang membawa kegembiraan bagi hidupnya, bagi Maria dan bagi kita sekalian umat manusia.
            22-23: Kelahiran Anak yang ada didalam kandungan Mria itu, sudah dinubuatkan dulu oleh Nabi Jesaya Pasal 7 ayat 14 Seorang peerempuan muda melahirkan seorang anak dan Ia akan menamakan Dia Immanuel artinya: Allah menyertai kita. Jadi kelahiran Tuhan Jesus adalah untuk merealisasikan Nuabuat Tuhan Allah yang disampaikan melalui Nabi Jesaya.

III.             Kesimpulan/Refleksi
Perisitiwa kelahiran Yesus Kristus sebagai sebuah inti Natal adalah tentang Allah yang berdiam bersama umat-Nya. Matius mengutip nubuat Nabi Yesaya tentang seorang anak yang akan dinamakan Imanuel, yang berarti “Allah menyertai kita” (Yes. 7:14). Lewat kutipan itu, Matius menyatakan bahwa penggenapan utama dari nubuat tersebut adalah Yesus, Pribadi yang dilahirkan oleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi Allah yang menyertai kita. Kebenaran itu begitu penting sehingga Matius memulai catatan Injilnya dengan pernyataan itu, lalu menutupnya dengan perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).
Lirik himne karya Santo Patrick mengingatkan saya bahwa Kristus selalu menyertai orang percaya melalui Roh-Nya yang hidup di dalam mereka. Ketika gelisah atau takut, saya dapat memegang teguh janji-Nya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan saya. Ketika sulit untuk tidur, saya bisa meminta Dia memberikan damai sejahtera-Nya. Ketika sedang dipenuhi sukacita, saya bisa bersyukur kepada-Nya atas semua karya-Nya yang indah dalam hidup saya.
IV.                          Penerapan
Kelas kecil:
-   Menyebutkan arti tema
-  Menyebutkan tokoh-tokoh dalam cerita  dan menjelaskan secara sederhana karakter masing-masing tokoh sambil menunjukkan gambarnya.
-  Apa yang menjadi respon terhadap Yesus (Immanuel) yang selalu menyertai umat manusia.
   Kelas besar:
-          Menyebutkan tema
-          Menyebutkan tokoh dan karakter masing-masing tokoh
-          Mengucap syukur atas kedatangan Immanuel lewat nyanyian
-          Menceritakan kembali isi teks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...