Minggu, 03 September 2023

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

 

1 Samuel 25:14-19

Menjadi Perempuan Bijak

25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangnya, katanya: “Ketahuilah, Daud menyuruh orang dari padang gurun untuk memberi salam kepada tuan kita, tetapi ia memaki-maki mereka.

25:15 Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang.

25:16 Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka.

25:17 Oleh sebab itu, pikirkanlah dan pertimbangkanlah apa yang harus kauperbuat, sebab telah diputuskan bahwa celaka akan didatangkan kepada tuan kita dan kepada seisi rumahnya, dan ia seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia.”

25:18 Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai,

25:19 lalu berkata kepada bujang-bujangnya: “Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu.” Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.

            Saudara/i  yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Ibarat air susu dibalas dengan air tuba, kebaikan dibalas dengan kejahatan. Demikianlah  yang dirasakan oleh Daud atas perbuatan Nabal. Pada waktu itu setelah kemtian hakim Samuel dan bangsa Israel yang meratap dan berduka akan hal itu. Daud mendengar bahwa Nabal sedang menggunting bulu dombanya di Karmel. Lalu ia  menyuruh  para pengawalnya menghadap Nabal seorang pengusaha yang memiliki banyak ternak. Pada waktu itu Nabal sedang menggunting bulu dombanya. Seperti yang tercatat di dalam ayat 5-7;

5. Maka Daud menyuruh sepuluh orang dan kepada orang-orang itu Daud berkata: “Pergilah ke Karmel dan temuilah Nabal. Tanyakanlah keselamatannya atas namaku. 6.  Dan sampaikanlah salam ini kepadanya: Selamat! Selamatlah engkau, selamatlah keluargamu, selamatlah segala yang ada padamu. 7. Baru-baru ini aku mendengar bahwa engkau mengadakan pengguntingan bulu domba. Adapun gembala-gembalamu yang ada dengan kami, tidak kami ganggu dan tidak ada sesuatu yang hilang dari pada mereka selama mereka ada di Karmel. 8. Tanyakanlah kepada orang-orangmu, mereka tentu akan memberitahukan kepadamu. Sebab itu biarlah orang-orang ini mendapat belas kasihanmu; bukankah kami ini datang pada hari raya? Berikanlah kepada hamba-hambamu ini dan kepada anakmu Daud apa yang ada padamu.”

            Di sini sangat jelas sekali bahwa Daud sebenarnya sudah terlebih dahulu melakukan kebaikan terhadap Nabal. Kebaikan mereka adalah dengan ikut bertanggungjawab untuk menjaga kawanan domba dan kambing hewan ternak mereka supaya tidak hilang. Bahkan disebutkan pada ayat 15 menurut penuturan pekerja Nabal, “Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang. 16 Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka. Inilah kebaikan Daud bersama-sama dengan orang-orangnya terhadap Nabal. Bisa dikatakan bahwa kesuksesan Nabal juga dikarenakan adanya bantuan dari Daud dan tentara-tentaranya. Tetapi apa yang kita lihat sikap dari Nabal itu sendiri terhadap Daud. Dikatakan di sini, ketika pengawal-pengawal Daud sudah sampai kepada Nabal. Ternyata jawaban yang mereka dapatkan justru jauh dari harapan. Nabal yang sombong dan kasar memberikan jawaban yang sangat arogan. Dikatakan pada ayat yang 10, “Tetapi Nabal menjawab anak buah Daud itu, katanya: “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya. 1 Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”

Ibarat kacang lupa akan kulitnya, sikap arogansi dan kesombongan yang ditunjukkan oleh Nabal ini sesuai dengan arti namanya pada ayat 4 disebutkan Nabal artinya  “laki-laki kasar dan jahat kelakuannya” . Ia melupakan dan pura-pura lupa siapa yang telah mendukung dan membantunya dalam meraih kesuksesannya sebagai pengusaha ternak. Padahal selama ini Daud sangat baik padanya, bahkan ternaknya tidak ada satupun yang hilang karena Daud dan tentara-tentaranya ikut membantu menjaga kawanan ternak domba dan kambing mereka.  Saudara/i yang terkasih sehebat apapun, dan sesukses, sekaya apapun kita, ingatlah senantiasa orang-orang yang mendukung, yang membantu, mendoakan kamu hingga sesukses sekarang ini. Jangan pernah lupa kacang akan kulitnya.

Selanjutnya, setelah Nabal memberikan jawaban yang seperti itu, Daud marah dan berencana untuk menghabisi menghabisi Nabal dan orang-orang. Daud mengerahkan 400 orang mengikuti Daud untuk menghabisi Nabal (14), tetapi kepada Abigail yakni istri Nabal diberitahukan tentang ini oleh pelayannya. Mendengar hal itu Abigail pun melakukan sebuah tindakan tanpa sepengetahuan suaminya, dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai, dan menyuruh pelayannya terlebih dahulu menemui Daud. Kemudian Abigail menyusul menunggangi keledai dan setelah bertemu dengan Daud, ia langsung turun dan bersyujud di kaki Daud serta berkata, “Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini. Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh. Oleh sebab itu, tuanku, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku! Oleh sebab itu, pemberian yang dibawa kepada tuanku oleh budakmu ini, biarlah diberikan kepada orang-orang yang mengikuti tuanku. Ampunilah kiranya kecerobohan hambamu ini, sebab pastilah TUHAN akan membangun bagi tuanku keturunan yang teguh, karena tuanku ini melakukan perang TUHAN dan tidak ada yang jahat terdapat padamu selama hidupmu.

Mendengar perkataan daripada Abigail maka tersentuhlah Daud akan perkataan itu yang  kembali melembutkan hatinya yang dipenuhi oleh amarah. Ia berkata kepada Abigail. Ayat 32; “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; 33 terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.” Tindakan yang dilakukan oleh Abigail pada akhirnya menggagalkan rencana peperangan/perkelahian antara Daud dan Nabal. Dan benar Allah sendiri yang memberikan balasan kepada Nabal bukan tangan Daud sendiri. Apa yang mau dilihat dari kisah ini? Yang dapat kita pelajari adalah bagaimana kebjiaksaan seorang istri untuk menyelamatkan nyawa suaminya Nabal. Kebijaksanaan seorang istri menciptakan keadaan yang kacau menjadi damai, kebijaksaan seorang istri untuk meredam amarah orang lain termasuk suaminya dalam ini juga adalah seorang laki-laki kasar. Lalu kebijaksanaan Abigail di sini dapat kita lihat dari usahanya untuk selalu memberikan pengampunan dan memberikan kebaikan terhadap suaminya walaupun pada dasarnya dia sering tersiksa akan perlakuan suaminya yang sombong, kasar dan arogan. Ia tetap memberikan pengampunan dan sebisa mungkin dia selalu berusaha melakukan hal yang baik terhadap suaminya. Hal ini terbukti ketika rencana Daud akan membunuhnya, ia berusaha untuk melindungi suaminya. Ia tidak senang atau malah menyetujui akan hal itu, walaupun selama dia merasa tersiksa atas perlakuan suaminya. Ia tetap memberikan yang baik untuk suaminya.

Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Dari kisah ini kita belajar beberapa hal:

1.      Dari Nabal kita belajar bahwa sikap arogansi, kesombongan dan perbuatan kasar dan jahat adalah sifat-sifat yang memancing orang lain untuk dendam dan berbuat jahat kepada kita. Maka jauhkanlah sikap sombong dari dalam diri kita.

2.      Dari Daud  sendiri kita belajar, untuk selalu mampu menerima teguran, dan masukan dari orang lain.

3.      Dan dari Abigail sendiri kita belajar untuk menjadi perempuan yang bijak, rendah hati, mampu meredam perselisihan, bertindak bijak dalam situasi terdesak sekalipun. Tidak mudah terpancing emosi, dan berusaha senantiasa memberikan pengampunan dan memberikan kebaikan bagi orang lain.

Kiranya Tuhan semakin memperbaharui kita dan melimpahkan berkat-Nya bagi kita.

 

Renungan Yehezkiel 33:7-11

 

Yehezkiel 33:7-11

Kembalilah ke jalan Tuhan, Dia masih menunggumu?

7 Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.

8 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! — dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.

9 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu.

10 Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada kaum Israel: Kamu berkata begini: Pelanggaran kami dan dosa kami sudah tertanggung atas kami dan karena itu kami hancur; bagaimanakah kami dapat tetap hidup?

11 Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?

 

Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus Tuhan. Ada banyak alasan bagi kita untuk berbuat dosa. Karena situasi dan kondisi perekonomian kita yang mengancam, karena tekanan hidup yang berat, apakah itu karena kenyataan sering sekali jauh dari harapan kita, karena kekecewaan hidup, penghianatan dan juga penderitaan karena kemiskinan, kecerobohan, karena sikap kita yang tidak mau mengucap syukur di dalam menjalani kehidupan ini sehingga kita jatuh ke dalam dosa. Saat di dalam keberdosaan itu, kita merasa bahwa hidup kita terasa hampa. Terus-menerus jatuh ke dalam dosa walau dalam hati kita ingin kembali, ingin kembali kepada jalan Tuhan. Tetapi beratnya hidup dan tantangannya membuat kita seolah-olah berkata apakah masih ada jalan, apakaha masih ada jalan kembali kepada Tuhan? apakah aku masih layak menerima pengampunan Tuhan. aku ini pendosa, pendosa yang keji dan hina, pendosa yang semestinya mendapatkan hukuman yang berat, timbul keraguan di dalam diri, layakkah aku menerima kasih pengampunan dari Tuhan?

Saudara/i yang terkasih, memang benar Allah adalah Maha adil dan benar dalam penghakimannya. Tetapi kita jangan lupa bahwa Tuhan juga maha pengasih dan penyayang, bahkan kasih-Nya melebihi dari apapun. Saat kita jatuh ke dalam dosa, tentu, kita layak diberi hukuman atas dosa kita, tetapi Tuhan jauh melebihi dari itu semua, Kalaupun hukuman itu ada, tapi sesungguhnya kasih Allah lebih besar dari penghukuman itu sendiri, jika kita mau mengaku dan bertobat, apapun itu dan sebesar apapun dosa kita, maka Ia Tuhan selalu setia menerima dan mengampuni kita. Hal ini telah Tuhan sampaikan melalui hambanya nabi Yehezkiel bahwa Tuhan merindukan pertobatan orang-orang yang berbuat dosa disebutkan di dalam Yeh. 33:11, “Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”.

Jadi hal pertama yang perlu kita pahami saudara/i yang terkasih di dalam Tuhan, bahwa Tuhan menunggu dan menunggu, merindukan pertobatan kita. Allah tidak menginginkan kematian orang-orang yang berdosa. tetapi kehidupan dan keselamatan itulah yang Tuhan berikan dan tawarkan untuk kita umat manusia. Lalu apakah ada dosa kita yang tidak bisa diampuni oleh Tuhan, atau seberat dan sebesar apakah dosa kita yang tidak mampu Tuhan ampuni? Firman Tuhan yang tercatat di dalam Yesaya 1:18, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”  Artinya apa??? Tuhan bersedia memberi pengampunan jika kita bertobat, dan mengaku dengan sungguh-sungguh.

Yang kedua, teks Firman Tuhan ini disampaikan kepada Yehezkiel yang pada masa itu, ia mengemban tugas sebagai nabi yang diperintahkan Tuhan menyampaikan pesan Allah kepada bangsa Israel. Bangsa Israel sedang berada di pembuangan Babilonia. Dalam situasi tersebut tentunya bangsa Israel berada di dalam kebingungan, kegelisahan, serta penderitaan dikarenakan berada dibawah kekuasaan Bangsa Babel. Mereka diperlakukan menjadi seperti budak, tidak bebas, mengalami penyiksaan. Tapi satu hal yang pasti keberadaan mereka di sana dikarenakan oleh perbuatan mereka yang melanggar perintah dan hidup di dalam dosa terus menerus. Berulang kali mereka sudah diingatkan oleh nabi-nabi Allah tetapi merea tidak mendengarkan. Alhasil mereka dihukum Tuhan supaya menyadari akan keberdosaan mereka. Jadi, dalam situasi inilah Tuhan Allah mengirim nabi Yehezkiel menyampaikan bahwa Tuhan itu menginginkan pertobatan dan kembali kepada jalan Tuhan.

Pada ayat 7,  “Dan engkau anak manusia, Aku menetapkan engkau menjadi penjaga bagi kaum Israel. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku.” Allah menegaskan dan memberi tugas kepada Yehezkiel untuk menjadi Penjaga (wacther) yang dipanggil sebagai anak manusia. Dalam hal ini Yehzkiel diberi mandat untuk memperingatkan orang Israel seturut kemauan dan perintah Tuhan, seperti Firman-Nya yang akan disampaikan kepada bangsa Israel. Disebutkan pada 33:8,  Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! — dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” 9 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu supaya ia bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. Dari teks ini kita memahami bahwa salah satu tanggungjawab Yehezkiel adalah harus menyampaikan a peringatan kepada bangsa Israel akan perbuatan dosa mereka. Artinya apa?, saudara/i yang terkasih Tuhan tidak menginginkan seorangpun mati di dalam dosa. Tuhan menginginkan orang-orang yang berdosa tidak binasa tetapi memperoleh keselamatan. Perkataan Tuhan, “dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Sebenarnya kita pasti sedikit susah menerima penekanan firman Tuhan ini.  Tetapi apa yang mau disampaikan adalah sebagai orang yang mengenal kebenaran, kita juga harus menyampaikan kebenaran terhadap orang lain. Ketika saudara atau bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun kita diingatkan untuk berani menegor mereka di dalam kesalahannya. Tujuannya supaya ia mengetahui kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Tetapi ketika kita sudah mengingatkan tetapi tidak didengarkan bukan lagi tanggung jawab kita.

Maka saudara yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Jika kita saat ini kita merasa bahwa kita jauh dari hadirat Tuhan, jangan-jangan ada dosa yang kita tutupi dan sembunyikan. Jika saat ini kita merasa bahwa kita sering berbuat dosa maka pada saat ini tanpa ragu, mari kita tinggalkan. Mari datang kepada Tuhan memohon dan meminta ampun. Sebab Tuhan kita dalah maha Penyayang penuh kasih pengampunan. Dia selalu dan selalu menunggu kita, Dia sangat merindukan kita untuk kembali kepadanya. Seperti Firman Tuha yang tertuli di dalam 2 tawarikh 7:14
Sekiranya umat Saya yang dipanggil dengan nama Saya merendahkan diri, dan berdoa dan mencari wajah Saya dan berpaling dari jalan jahat mereka, maka Saya akan mendengar dari surga dan akan mengampuni dosa mereka dan menyembuhkan tanah mereka.  DI dalam Yesaya 55:7, “Biarkan orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang yang tidak adil memikirkannya; biarkan dia kembali kepada Tuhan, agar dia memiliki belas kasihan kepadanya, dan kepada tuhan kita, kerana Dia akan sangat mengampuni.”

Semuanya dimulai sejak tahun 2020-an. Pria yang berstatus sebagai pekerja informal di Kota Bandung ini mengaku pertama kali mengenal judi online dengan jenis permainan slot setelah melihat temannya bermain. Rasa penasaran pun menghinggapi pria ini dan mulai nekat mencoba untuk memainkannya.

Awalnya, dia mengaku hanya mendepositkan uang yang tidak terlalu besar. Dari Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, uang-uang tersebut mulai ditransfer ke rekening akun penyedia judi online. Dan yang terjadi kemudian, dia bisa mendapatkan keuntungan dari permainan judi yang dilakoninya.

"Tadinya cuma deposit Rp 50 ribu, ternyata dikasih menang Rp 500 ribu. Depo Rp 100 ribu, dikasih Rp 1 juta. Akhirnya kan saya tergiur, dirasa-rasa nyari duit ternyata gampang juga kalau begitu mah," kata dia saat mengawali perbincangannya belum lama ini.


Karena merasa mendapat angin surga, pria ini jadi ketagihan. Nominal deposit yang ia transfer ke akun judi online pun akhirnya meningkat menjadi jutaan rupiah.

Sampai kemudian, tak terasa 3 tahun sudah pria bertubuh lumayan gempal ini bulak-balik mentransfer uang demi bisa bermain judi online. Tapi, mulai dari sini lah petaka itu datang.

"Karena awal itu dikasihnya menang, akhirnya jadi ketagihan. Terus akhirnya depo supaya bisa main. Dari yang tadinya cuma ratusan ribu, naik jadi jutaan," ungkap pria ini.

Tapi yang terjadi, dia tidak pernah lagi mendapat keuntungan dari judi online. Meski sudah menyadari hal itu salah, pria ini tetap mendepositkan uangnya demi bisa bermain judi lagi.

Saat kekalahan demi kekalahan didapat, dia kemudian mencoba pertaruhan yang lebih besar. Dalam sehari, setidaknya ia bisa mendepositkan uang Rp 3-5 juta demi bisa mengembalikan modal kekalahannya.
"Jadi begitu saya kalah, itu ngerasanya harus deposit lagi dengan jumlah besar supaya uang yang kalah tadi itu bisa balik lagi. Tapi ternyata saya salah, saya makin lebih rungkad (istilah para penjudi untuk menyebut sebuah kekalahan dalam permainan)," ucapnya.

Namun lagi-lagi, entah menyadarinya atau tidak, pria ini malah makin menjadi-jadi bermain judi online. Hampir setiap hari uang pribadinya dia depositkan demi bisa mengembalikan modal kekalahan yang dideritanya tersebut. Meskipun, ia mengaku uang yang didepositkan itu bukan uang untuk keperluan anak-istrinya. Uang itu ia dapatkan dari hasil kerja sampingan yang biasanya dia pakai untuk keperluan operasionalnya sehari-hari. "Selama judi, uang buat dapur mah udah aman. Saya pakai uang yang dari sampingan saya. Tapi tetep aja, saya jadinya kecanduan buat main judi. Hampir setiap hari saya judi, ya walau enggak ngeganggu ke pekerjaan dan semuanya aman-aman aja," ungkapanya.

Sampai di satu hari yang belum lama ini terjadi, pria ini seolah ditampar oleh kenyataan. Peristiwa ini pun yang akhirnya membuatnya sadar dan menguatkan niat untuk meninggalkan dunia perjudian.
Dengan penuh penyesalan, dia bercerita bahwa istrinya saat itu menghubunginya saat masih bekerja. Sang istri memberi tahu bahwa keperluan susu dan anak sudah habis dan perlu uang untuk belanja.
Seolah dihantam petir, pria ini lalu hanya bisa terdiam meratapi nasibnya. Sebab pada waktu itu, pada pagi harinya ia mengantongi uang sebesar Rp 3 juta yang malah habis seluruhnya untuk bermain judi online.
"Jadi hari itu, saya sebetulnya baru dapet uang Rp 3 juta dari kerjaan sampingan. Terus sambil iseng, nyoba depo lah main slot. Enggak tahunya, enggak nyampe setengah jam uangnya udah habis. Sore pas masih kerja, istri nelpon popok sama susu si dede udah abis," kata pria tersebut.

"Saya akhirnya terdiam, kok bisa harusnya uang itu saya pakai buat beli popok sama susu malah saya pakai buat judi. Mau enggak mau, saya maksain diri minjem ke orang tua waktu itu buat beli popok sama susu anak," ujarnya melanjutkan.

Selepas kerja, dia lalu memacu motor matiknya pulang ke rumah orang tua. Tanpa terasa, air matanya pun jatuh saat dalam perjalanan. Ia hanya bisa memaki ke dirinya sendiri karena sudah mengabaikan kebutuhan anak dan istrinya di rumah.

"Pas nyampe rumah orang tua, saya beraniin diri minjem uang dulu buat beli popok sama susu. Orang tua sempet curiga, emang uangnya udah abis. Terus kata saya, enggak, ini mah lagi enggak ada uang aja buat beli popok sama susunya," ucap pria tersebut.

Meski bisa mendapatkan uang dari pinjaman orang tuanya, semenjak dari sini, dia lalu meniatkan dirinya kuat-kuat. Dia berjanji tidak ingin berjudi lagi sebelum terjadi petaka yang lebih besar.
Niatnya semakin kuat setelah ia mencoba merekap semua pengeluarannya selama terlihat perjudian. Hasilnya, semenjak kecanduan judi dari 2020 hingga sekarang, uang yang dia transfer ke akun judi online sudah mencapai ratusan juta rupiah.

"Pas saya rekap mutasi transfer saya, itu harusnya saya bisa beli satu mobil Agya mah, cash. Saya dapatnya cuma Rp 20 jutaan doang. Dari situ saya makin niat saya harus berhenti judi daripada nanti hancur rumah tangga saya," tuturnya.

Kini, sudah 3 bulan dia mengaku telah menjauh dari dunia perjudian. Semua uang yang ia terima pun sekarang langsung ia setorkan ke istrinya untuk kebutuhan rumah.

Karena itu saudara/i dari awal Tuhan membuat kita ada. Penuh mulia dan baik adanya tetapi dirusak oleh dosa. Tapi Tuhan menawarkan pengampunan kepada kita supaya hidup kita dipulihkan. Allah mengasihi saudara dan saya, hidupmu dan hidupku berharga di mata-Nya karena itu marilah kita kembali pulang.

Doa: terimakasih Tuhan atas kasih karunia Tuhan yang melimpah di dalam kehidupan kami. Kiranya Tuhan senantiasa menyertai kehidupan kami supaya memiliki hidup yang selalu berusaha menyenangkan hati-Mu, hidup di dalam kasih-Mu. Amin.

Rabu, 30 Agustus 2023

renungan Matius 18:15-20

 

Matius 18:15-20

Sebesar apakah dosamu yang tidak dapat Dia ampuni?

15 “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.

17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.

19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

 

Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Jika dijawab secara jujur, bagaimanakah respon kita terhadap orang yang kedapatan berbuat dosa? Dan apakah tindakan yang kita lakukan terhadapnya? Barangkali jawaban yang kita berikan adalah:

1.                            “Selama dia tidak mengganggu, dan merugikan saya. Saya akan acuh tak acuh, saya tidak akan berbuat apa-apa.”

2.                            Kalau saya menegurnya, malah boleh saja fakta diputarbalikkan dan akhirnya saya di fitnah.

3.                            Kita enggan menegur, karena dia adalah orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan tertentu, sehingga kita tidak berani untuk menegur.

4.                            Kita memiliki ikatan saudara/kekeluargaan dengan orang tersebut, sehingga kita pun akhirnya memilih untuk mendiamkan dan menutupi pelanggaran tersebut.

Banyak alasan yang membuat kita pada akhirnya enggan untuk menegor sesama kita. Tetapi melalui Firman Tuhan pada saat ini saudara, kita diingatkan kembali bahwa menegor dan mengingatkan sesama merupakan salah satu tugas gereja, salah satu upaya gereja untuk mempertahankan kemurnian dan kesucian gereja. Menurut Mark Dever dalam bukunya menyatakan bahwa salah satu tanda gereja yang sehat itu adalah gereja yang menerapkan disiplin atau hukum siasat di gereja. Tujuannya supaya kemurnian dan menyucikan pesan Firman Tuhan yang dihidupi oleh jemaat-Nya. Jadi ketika kita tidak melakukan ini, kita membiarkan dan menegur saudara-/i kita yang berbuat dosa, sebenarnya kita sedang mengaburkam kabar baik itu terlebih lagi makna hidup baru di dalam Yesus Kristus. Menegur di sini haruslah didasari kasih bukan karena dendam, atau dalam rangka melampiaskan kemarahan atau kebencian kita terhadapnya... tetapi karena di dasari oleh kasih.

Contoh yang paling konkrit saudara/i yang terkasih di dalam Tuhan. hubungan antara orang tua dan anak. Biasanya kasih orang tua kepada anak adalah kasih yang paling murni. Orang tua yang mengasihi anaknya adalah orang tua yang selalu menjaga dan memperhatikan anaknya, memberikan apa yang dibutuhkan oleh anaknya, orang tua akan memberikan dan membiarkan anaknya melakukan berbagai-bagai hal selama itu tidak melanggar Firman Tuhan. tetapi kita anak mereka melakukan kesalahan apa yang orang tua lakukan? Tentunya orang tua akan menegor bahkan menghukum mereka supaya tidak berlarut-larut, semakin menjadi-jadi dan semakin jauh jatuh ke dalam dosa. Saya kira orang tua yang palin kejam adalah orang tua yang membiarkan anaknya jatuh ke dalam dosa, bahkan memuji anaknya ketika mencuri. Tetapi orang tua yang baik adalah orang tua yang memuji dan membiarkan anaknya untuk melakukan hal-hal baik, tetapi mengukum ketika melakukan perkara-perkara yang buruk.

Saudara-i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Demikian halnya dalam menegur ataupun dalam melaksanakan disiplin gereja. Tuhan Yesus berkata di dalam Matius 18:13-14, Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.” Apa yang mau disampaikan lewat kotbah ini adalah tindakan menegur dan melaksakan disiplin gereja bukan untuk aksi menghakimi atau tindakan mempermalukan saudara/i kita tetapi tujuannya adalah mengingatkan dia supaya tidak lagi hidup dalam dosa yang membuatnya sesat dan hilang.

Karena itu melalui Firman Tuhan pada saat ini kita diajarkan untuk membuat sebuah tindakan dimana ada jemaat, saudara kita yang hidup di dalam dosa ada respon dan tindakan yang boleh kita lakukan. Maka melalui pengajaran Tuhan Yesus pada saat ini diajarkan kepada kita bahwa dalam hal menegur dan menjalankan disiplin gereja/siasat gereja ada beberapa langkah yang dilakukan:

1.      Tegor secara empat mata

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

            Jemaat adalah sebuah keluarga yang diikat dan dipersatukan di dalam Tuhan Allah. Artinya semua jemaat harus hidup di dalam saling melengkapi, mendukung dan saling menopang di dalam kasih. Ketika ada saudara kita yang berbuat dosa maka yang kita lakukan adalah menegur dia secara empat mata. Bukti dari kita mengasihi dia adalah dengan menegor dan menujukkan kesalahan supaya ia tidak terjerat dalam dosa tetapi kembali ke jalan yang benar. Maka saudara-saudari yang terkasih, bersyukurlah kepada Allah senantiasa di dalam hidup kita ketika ada orang yang menegur dan meningatkan kita akan dosa kita. Jadi saudara/i yang terkasih langkah pertama yang kita lakukan adalah menegor secara empat mata terlebih dahulu.

2.      Bawa seorang, dua atau tiga orang saksi

“Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.”

Nah di sini langkah selanjutnya jika langkah pertama tidak berhasil, dia tetap tidak mau mendengar dan terus berbuat dosa maka selanjutnya yang dilakukan adalah membawa seorang, dua atau tiga saksi untuk menegornya. Saksi yang dimaksud di sini adalah yang memiliki keinginan dan tekad yang sama yang didasari oleh kasih untuk menegur saudaranya. Mereka juga sebisa mungkin adalah orang-orang yang sudah dewasa secara rohani dan fakta-fakta yang dia sampaikan adalah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Melalui saksi-saksi ini diharapkan saudara yang berbuat dosa semakin menyadari dan lebih bertekad untuk meninggalkan dosanya.

3.      Sampaikan kepada Jemaat

Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.

            Jika langkah yang kedua juga belum berhasil maka lang selanjutnya harus ditempuh. Langkah yang ketiga di sini adalah menyampaikan kepada jemaat. Artinya jemaat di sini bertindak memberikan pandangan dan juga teguran akan dosa dan perbuatan yang dia lakukan. Melalui pelayan gereja, pemimpin, pengurus gereja menyampaikan teguran dan nasihat supaya ia meninggalkan perbuatannya. Barangkali dengan banyaknya jumlah orang yang mengingatkan dia memiliki kesadaran. Tetapi jika hal ini juga belum berhasil berarti langkah selanjutnya juga harus ditempuh.

4.      Pandanglah ia seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Langkah terakhir yang boleh ditempuh adalah memandang dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Yang dimaksud di sini, jika secara kekeluargaan sudah dilakukan, sudah melaksanakan tahapan-tahapan yang disebutkan sebelumnya tetapi tidak berhasil juga, adalah dengan membiarkan hukum manusia untuk menyelesaikan perkara dengannya. Jika belum mencoba semua cara secara damai jangan memperkarakannya kepada hukum. Kita boleh tidak berhubungan, atau memutus persaudaraan tetapi tidak boleh balas dendam. Dalam persekutuan dia boleh dikucilkan ataupun dikeluarkan dari anggota jemaat demi menjaga kemurnian dan martabat gereja.

Matius 18:18 : "Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (bandingkan Matius 16:19). Orang Yahudi memakai istilah "mengikat" untuk hal mengucilkan seorang dari jemaat Tuhan, dan istilah "melepaskan" adalah dipergunakan untuk hal melepaskan seorang untuk masuk ke tahap pengucilan. Pengertiannya, orang "terikat" pada kesalahannya ia akan "terlepas" dari komunitas gerejawi.

 

Melalui ayat 18 ini Tuhan Yesus memberikan suatu wewenang "disiplin gerejawi" bukan hanya tindakan dari anggota-anggota jemaat terhadap seorang anggota jemaat, melainkan dapat dikatakan sama dengan tindakan Allah sendiri. Jika jemaat menegor seorang supaya dia bertobat dan meninggalkan dosanya, maka melalui tegoran itu Tuhan sendiri mencari dan memanggil orang itu, dan jika ia tetap menolak panggilan Tuhan itu, maka Tuhan menolak orang itu. Sebaliknya jika jemaat menyambut seorang yang menyesal, maka Tuhan sendiri juga menyambut orang itu.

 

Ayat 19 dan 20. Menyampaikan janji bahwa doa akan dijawab bahkan apabila dua orang sepakat merupakan bukti tambahan bahwa keputusan jemaat yang dilandasi doa dalam hal-hal yang menyangkut disiplin akan dihormati oleh Tuhan. Janji mengenai doa terpadu ini harus dilihat dari sudut ajaran Kristus yang lain mengenai pokok ini (bandingkan 1Yohanes 5:14). "Di situ Aku ada di tengah-tengah mereka". Janji tentang kehadiran khusus Kristus di tengah-tengah jemaat yang jumlahnya paling kecil.

 Pada 2 ayat terakhir ini, Tuhan Yesus menerangkan betapa pentingnya orang-orang yang percaya kepada-Nya bergabung dan membentuk sebuah jemaat. Tuhan Yesus menerangkan bahwa doa yang dipanjatkan bersama-sama (biar dua orang saja) adalah sangat kuat. Allah mengabulkan doa itu, walaupun dengan cara yang sesuai dengan hikmat-Nya; acapkali Ia mengabulkan doa kita dengan cara yang lain daripada yang kita harapkan dulu.

 2 ayat terakhir ini juga menjelaskan tentang wewenang Sidang Jemaat yang sudah disinggung dalam ayat 16-17. Apabila sidang telah menasehati seorang anggota jemaat yang tidak mau mengakui dosanya atau tidak mau meninggalkan dosa itu, sewajarnyalah Sidang Jemaat berdoa bersama-sama supaya Tuhan memberi kebijaksanaan dalam tugas mereka itu. Tuhan Yesus memberi suatu janji, bahwa Ia sendiri akan hadir, di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, yang berarti sebagai orang yang percaya kepada Kristus dan yang mau mentaati Kristus.

 Persetujuan dari Sidang Jemaat yang bersatu dalam doa akan diterima oleh Allah sebagai mengikat, karena Ia hadir dalam doa jemaat secara khusus. Sifat penting dan menyakitkan dari pemisahan seorang yang tidak mengakui jemaat diimbangi oleh keyakinan jemaat bahwa Allah menyetujui keputusan tersebut.

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...