1 Samuel 25:14-19
Menjadi Perempuan Bijak
25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangnya, katanya: “Ketahuilah, Daud menyuruh orang dari padang gurun untuk memberi salam kepada tuan kita, tetapi ia memaki-maki mereka.
25:15 Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang.
25:16 Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka.
25:17 Oleh sebab itu, pikirkanlah dan pertimbangkanlah apa yang harus kauperbuat, sebab telah diputuskan bahwa celaka akan didatangkan kepada tuan kita dan kepada seisi rumahnya, dan ia seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia.”
25:18 Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai,
25:19 lalu berkata kepada bujang-bujangnya: “Berjalanlah mendahului aku; aku segera menyusul kamu.” Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.
Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Ibarat air susu dibalas dengan air tuba, kebaikan dibalas dengan kejahatan. Demikianlah yang dirasakan oleh Daud atas perbuatan Nabal. Pada waktu itu setelah kemtian hakim Samuel dan bangsa Israel yang meratap dan berduka akan hal itu. Daud mendengar bahwa Nabal sedang menggunting bulu dombanya di Karmel. Lalu ia menyuruh para pengawalnya menghadap Nabal seorang pengusaha yang memiliki banyak ternak. Pada waktu itu Nabal sedang menggunting bulu dombanya. Seperti yang tercatat di dalam ayat 5-7;
5. Maka Daud menyuruh sepuluh orang dan kepada orang-orang itu Daud berkata: “Pergilah ke Karmel dan temuilah Nabal. Tanyakanlah keselamatannya atas namaku. 6. Dan sampaikanlah salam ini kepadanya: Selamat! Selamatlah engkau, selamatlah keluargamu, selamatlah segala yang ada padamu. 7. Baru-baru ini aku mendengar bahwa engkau mengadakan pengguntingan bulu domba. Adapun gembala-gembalamu yang ada dengan kami, tidak kami ganggu dan tidak ada sesuatu yang hilang dari pada mereka selama mereka ada di Karmel. 8. Tanyakanlah kepada orang-orangmu, mereka tentu akan memberitahukan kepadamu. Sebab itu biarlah orang-orang ini mendapat belas kasihanmu; bukankah kami ini datang pada hari raya? Berikanlah kepada hamba-hambamu ini dan kepada anakmu Daud apa yang ada padamu.”
Di sini sangat jelas sekali bahwa Daud sebenarnya sudah terlebih dahulu melakukan kebaikan terhadap Nabal. Kebaikan mereka adalah dengan ikut bertanggungjawab untuk menjaga kawanan domba dan kambing hewan ternak mereka supaya tidak hilang. Bahkan disebutkan pada ayat 15 menurut penuturan pekerja Nabal, “Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang. 16 Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka. Inilah kebaikan Daud bersama-sama dengan orang-orangnya terhadap Nabal. Bisa dikatakan bahwa kesuksesan Nabal juga dikarenakan adanya bantuan dari Daud dan tentara-tentaranya. Tetapi apa yang kita lihat sikap dari Nabal itu sendiri terhadap Daud. Dikatakan di sini, ketika pengawal-pengawal Daud sudah sampai kepada Nabal. Ternyata jawaban yang mereka dapatkan justru jauh dari harapan. Nabal yang sombong dan kasar memberikan jawaban yang sangat arogan. Dikatakan pada ayat yang 10, “Tetapi Nabal menjawab anak buah Daud itu, katanya: “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya. 1 Masakan aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian yang kubantai bagi orang-orang pengguntingku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang?”
Ibarat kacang lupa akan kulitnya, sikap arogansi dan kesombongan yang ditunjukkan oleh Nabal ini sesuai dengan arti namanya pada ayat 4 disebutkan Nabal artinya “laki-laki kasar dan jahat kelakuannya” . Ia melupakan dan pura-pura lupa siapa yang telah mendukung dan membantunya dalam meraih kesuksesannya sebagai pengusaha ternak. Padahal selama ini Daud sangat baik padanya, bahkan ternaknya tidak ada satupun yang hilang karena Daud dan tentara-tentaranya ikut membantu menjaga kawanan ternak domba dan kambing mereka. Saudara/i yang terkasih sehebat apapun, dan sesukses, sekaya apapun kita, ingatlah senantiasa orang-orang yang mendukung, yang membantu, mendoakan kamu hingga sesukses sekarang ini. Jangan pernah lupa kacang akan kulitnya.
Selanjutnya, setelah Nabal memberikan jawaban yang seperti itu, Daud marah dan berencana untuk menghabisi menghabisi Nabal dan orang-orang. Daud mengerahkan 400 orang mengikuti Daud untuk menghabisi Nabal (14), tetapi kepada Abigail yakni istri Nabal diberitahukan tentang ini oleh pelayannya. Mendengar hal itu Abigail pun melakukan sebuah tindakan tanpa sepengetahuan suaminya, dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai, dan menyuruh pelayannya terlebih dahulu menemui Daud. Kemudian Abigail menyusul menunggangi keledai dan setelah bertemu dengan Daud, ia langsung turun dan bersyujud di kaki Daud serta berkata, “Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini. Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. Tetapi aku, hambamu ini, tidak melihat orang-orang yang tuanku suruh. Oleh sebab itu, tuanku, demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu yang dicegah TUHAN dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan, biarlah menjadi sama seperti Nabal musuhmu dan orang yang bermaksud jahat terhadap tuanku! Oleh sebab itu, pemberian yang dibawa kepada tuanku oleh budakmu ini, biarlah diberikan kepada orang-orang yang mengikuti tuanku. Ampunilah kiranya kecerobohan hambamu ini, sebab pastilah TUHAN akan membangun bagi tuanku keturunan yang teguh, karena tuanku ini melakukan perang TUHAN dan tidak ada yang jahat terdapat padamu selama hidupmu.
Mendengar perkataan daripada Abigail maka tersentuhlah Daud akan perkataan itu yang kembali melembutkan hatinya yang dipenuhi oleh amarah. Ia berkata kepada Abigail. Ayat 32; “Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: “Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; 33 terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan.” Tindakan yang dilakukan oleh Abigail pada akhirnya menggagalkan rencana peperangan/perkelahian antara Daud dan Nabal. Dan benar Allah sendiri yang memberikan balasan kepada Nabal bukan tangan Daud sendiri. Apa yang mau dilihat dari kisah ini? Yang dapat kita pelajari adalah bagaimana kebjiaksaan seorang istri untuk menyelamatkan nyawa suaminya Nabal. Kebijaksanaan seorang istri menciptakan keadaan yang kacau menjadi damai, kebijaksaan seorang istri untuk meredam amarah orang lain termasuk suaminya dalam ini juga adalah seorang laki-laki kasar. Lalu kebijaksanaan Abigail di sini dapat kita lihat dari usahanya untuk selalu memberikan pengampunan dan memberikan kebaikan terhadap suaminya walaupun pada dasarnya dia sering tersiksa akan perlakuan suaminya yang sombong, kasar dan arogan. Ia tetap memberikan pengampunan dan sebisa mungkin dia selalu berusaha melakukan hal yang baik terhadap suaminya. Hal ini terbukti ketika rencana Daud akan membunuhnya, ia berusaha untuk melindungi suaminya. Ia tidak senang atau malah menyetujui akan hal itu, walaupun selama dia merasa tersiksa atas perlakuan suaminya. Ia tetap memberikan yang baik untuk suaminya.
Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Dari kisah ini kita belajar beberapa hal:
1. Dari Nabal kita belajar bahwa sikap arogansi, kesombongan dan perbuatan kasar dan jahat adalah sifat-sifat yang memancing orang lain untuk dendam dan berbuat jahat kepada kita. Maka jauhkanlah sikap sombong dari dalam diri kita.
2. Dari Daud sendiri kita belajar, untuk selalu mampu menerima teguran, dan masukan dari orang lain.
3. Dan dari Abigail sendiri kita belajar untuk menjadi perempuan yang bijak, rendah hati, mampu meredam perselisihan, bertindak bijak dalam situasi terdesak sekalipun. Tidak mudah terpancing emosi, dan berusaha senantiasa memberikan pengampunan dan memberikan kebaikan bagi orang lain.
Kiranya Tuhan semakin memperbaharui kita dan melimpahkan berkat-Nya bagi kita.