Rabu, 30 Agustus 2023

renungan Matius 18:15-20

 

Matius 18:15-20

Sebesar apakah dosamu yang tidak dapat Dia ampuni?

15 “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.

17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.

19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.

20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

 

Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Jika dijawab secara jujur, bagaimanakah respon kita terhadap orang yang kedapatan berbuat dosa? Dan apakah tindakan yang kita lakukan terhadapnya? Barangkali jawaban yang kita berikan adalah:

1.                            “Selama dia tidak mengganggu, dan merugikan saya. Saya akan acuh tak acuh, saya tidak akan berbuat apa-apa.”

2.                            Kalau saya menegurnya, malah boleh saja fakta diputarbalikkan dan akhirnya saya di fitnah.

3.                            Kita enggan menegur, karena dia adalah orang yang memiliki kekuasaan atau jabatan tertentu, sehingga kita tidak berani untuk menegur.

4.                            Kita memiliki ikatan saudara/kekeluargaan dengan orang tersebut, sehingga kita pun akhirnya memilih untuk mendiamkan dan menutupi pelanggaran tersebut.

Banyak alasan yang membuat kita pada akhirnya enggan untuk menegor sesama kita. Tetapi melalui Firman Tuhan pada saat ini saudara, kita diingatkan kembali bahwa menegor dan mengingatkan sesama merupakan salah satu tugas gereja, salah satu upaya gereja untuk mempertahankan kemurnian dan kesucian gereja. Menurut Mark Dever dalam bukunya menyatakan bahwa salah satu tanda gereja yang sehat itu adalah gereja yang menerapkan disiplin atau hukum siasat di gereja. Tujuannya supaya kemurnian dan menyucikan pesan Firman Tuhan yang dihidupi oleh jemaat-Nya. Jadi ketika kita tidak melakukan ini, kita membiarkan dan menegur saudara-/i kita yang berbuat dosa, sebenarnya kita sedang mengaburkam kabar baik itu terlebih lagi makna hidup baru di dalam Yesus Kristus. Menegur di sini haruslah didasari kasih bukan karena dendam, atau dalam rangka melampiaskan kemarahan atau kebencian kita terhadapnya... tetapi karena di dasari oleh kasih.

Contoh yang paling konkrit saudara/i yang terkasih di dalam Tuhan. hubungan antara orang tua dan anak. Biasanya kasih orang tua kepada anak adalah kasih yang paling murni. Orang tua yang mengasihi anaknya adalah orang tua yang selalu menjaga dan memperhatikan anaknya, memberikan apa yang dibutuhkan oleh anaknya, orang tua akan memberikan dan membiarkan anaknya melakukan berbagai-bagai hal selama itu tidak melanggar Firman Tuhan. tetapi kita anak mereka melakukan kesalahan apa yang orang tua lakukan? Tentunya orang tua akan menegor bahkan menghukum mereka supaya tidak berlarut-larut, semakin menjadi-jadi dan semakin jauh jatuh ke dalam dosa. Saya kira orang tua yang palin kejam adalah orang tua yang membiarkan anaknya jatuh ke dalam dosa, bahkan memuji anaknya ketika mencuri. Tetapi orang tua yang baik adalah orang tua yang memuji dan membiarkan anaknya untuk melakukan hal-hal baik, tetapi mengukum ketika melakukan perkara-perkara yang buruk.

Saudara-i yang terkasih di dalam Yesus Kristus. Demikian halnya dalam menegur ataupun dalam melaksanakan disiplin gereja. Tuhan Yesus berkata di dalam Matius 18:13-14, Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.” Apa yang mau disampaikan lewat kotbah ini adalah tindakan menegur dan melaksakan disiplin gereja bukan untuk aksi menghakimi atau tindakan mempermalukan saudara/i kita tetapi tujuannya adalah mengingatkan dia supaya tidak lagi hidup dalam dosa yang membuatnya sesat dan hilang.

Karena itu melalui Firman Tuhan pada saat ini kita diajarkan untuk membuat sebuah tindakan dimana ada jemaat, saudara kita yang hidup di dalam dosa ada respon dan tindakan yang boleh kita lakukan. Maka melalui pengajaran Tuhan Yesus pada saat ini diajarkan kepada kita bahwa dalam hal menegur dan menjalankan disiplin gereja/siasat gereja ada beberapa langkah yang dilakukan:

1.      Tegor secara empat mata

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.

            Jemaat adalah sebuah keluarga yang diikat dan dipersatukan di dalam Tuhan Allah. Artinya semua jemaat harus hidup di dalam saling melengkapi, mendukung dan saling menopang di dalam kasih. Ketika ada saudara kita yang berbuat dosa maka yang kita lakukan adalah menegur dia secara empat mata. Bukti dari kita mengasihi dia adalah dengan menegor dan menujukkan kesalahan supaya ia tidak terjerat dalam dosa tetapi kembali ke jalan yang benar. Maka saudara-saudari yang terkasih, bersyukurlah kepada Allah senantiasa di dalam hidup kita ketika ada orang yang menegur dan meningatkan kita akan dosa kita. Jadi saudara/i yang terkasih langkah pertama yang kita lakukan adalah menegor secara empat mata terlebih dahulu.

2.      Bawa seorang, dua atau tiga orang saksi

“Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.”

Nah di sini langkah selanjutnya jika langkah pertama tidak berhasil, dia tetap tidak mau mendengar dan terus berbuat dosa maka selanjutnya yang dilakukan adalah membawa seorang, dua atau tiga saksi untuk menegornya. Saksi yang dimaksud di sini adalah yang memiliki keinginan dan tekad yang sama yang didasari oleh kasih untuk menegur saudaranya. Mereka juga sebisa mungkin adalah orang-orang yang sudah dewasa secara rohani dan fakta-fakta yang dia sampaikan adalah sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Melalui saksi-saksi ini diharapkan saudara yang berbuat dosa semakin menyadari dan lebih bertekad untuk meninggalkan dosanya.

3.      Sampaikan kepada Jemaat

Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.

            Jika langkah yang kedua juga belum berhasil maka lang selanjutnya harus ditempuh. Langkah yang ketiga di sini adalah menyampaikan kepada jemaat. Artinya jemaat di sini bertindak memberikan pandangan dan juga teguran akan dosa dan perbuatan yang dia lakukan. Melalui pelayan gereja, pemimpin, pengurus gereja menyampaikan teguran dan nasihat supaya ia meninggalkan perbuatannya. Barangkali dengan banyaknya jumlah orang yang mengingatkan dia memiliki kesadaran. Tetapi jika hal ini juga belum berhasil berarti langkah selanjutnya juga harus ditempuh.

4.      Pandanglah ia seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.

Langkah terakhir yang boleh ditempuh adalah memandang dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Yang dimaksud di sini, jika secara kekeluargaan sudah dilakukan, sudah melaksanakan tahapan-tahapan yang disebutkan sebelumnya tetapi tidak berhasil juga, adalah dengan membiarkan hukum manusia untuk menyelesaikan perkara dengannya. Jika belum mencoba semua cara secara damai jangan memperkarakannya kepada hukum. Kita boleh tidak berhubungan, atau memutus persaudaraan tetapi tidak boleh balas dendam. Dalam persekutuan dia boleh dikucilkan ataupun dikeluarkan dari anggota jemaat demi menjaga kemurnian dan martabat gereja.

Matius 18:18 : "Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (bandingkan Matius 16:19). Orang Yahudi memakai istilah "mengikat" untuk hal mengucilkan seorang dari jemaat Tuhan, dan istilah "melepaskan" adalah dipergunakan untuk hal melepaskan seorang untuk masuk ke tahap pengucilan. Pengertiannya, orang "terikat" pada kesalahannya ia akan "terlepas" dari komunitas gerejawi.

 

Melalui ayat 18 ini Tuhan Yesus memberikan suatu wewenang "disiplin gerejawi" bukan hanya tindakan dari anggota-anggota jemaat terhadap seorang anggota jemaat, melainkan dapat dikatakan sama dengan tindakan Allah sendiri. Jika jemaat menegor seorang supaya dia bertobat dan meninggalkan dosanya, maka melalui tegoran itu Tuhan sendiri mencari dan memanggil orang itu, dan jika ia tetap menolak panggilan Tuhan itu, maka Tuhan menolak orang itu. Sebaliknya jika jemaat menyambut seorang yang menyesal, maka Tuhan sendiri juga menyambut orang itu.

 

Ayat 19 dan 20. Menyampaikan janji bahwa doa akan dijawab bahkan apabila dua orang sepakat merupakan bukti tambahan bahwa keputusan jemaat yang dilandasi doa dalam hal-hal yang menyangkut disiplin akan dihormati oleh Tuhan. Janji mengenai doa terpadu ini harus dilihat dari sudut ajaran Kristus yang lain mengenai pokok ini (bandingkan 1Yohanes 5:14). "Di situ Aku ada di tengah-tengah mereka". Janji tentang kehadiran khusus Kristus di tengah-tengah jemaat yang jumlahnya paling kecil.

 Pada 2 ayat terakhir ini, Tuhan Yesus menerangkan betapa pentingnya orang-orang yang percaya kepada-Nya bergabung dan membentuk sebuah jemaat. Tuhan Yesus menerangkan bahwa doa yang dipanjatkan bersama-sama (biar dua orang saja) adalah sangat kuat. Allah mengabulkan doa itu, walaupun dengan cara yang sesuai dengan hikmat-Nya; acapkali Ia mengabulkan doa kita dengan cara yang lain daripada yang kita harapkan dulu.

 2 ayat terakhir ini juga menjelaskan tentang wewenang Sidang Jemaat yang sudah disinggung dalam ayat 16-17. Apabila sidang telah menasehati seorang anggota jemaat yang tidak mau mengakui dosanya atau tidak mau meninggalkan dosa itu, sewajarnyalah Sidang Jemaat berdoa bersama-sama supaya Tuhan memberi kebijaksanaan dalam tugas mereka itu. Tuhan Yesus memberi suatu janji, bahwa Ia sendiri akan hadir, di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya, yang berarti sebagai orang yang percaya kepada Kristus dan yang mau mentaati Kristus.

 Persetujuan dari Sidang Jemaat yang bersatu dalam doa akan diterima oleh Allah sebagai mengikat, karena Ia hadir dalam doa jemaat secara khusus. Sifat penting dan menyakitkan dari pemisahan seorang yang tidak mengakui jemaat diimbangi oleh keyakinan jemaat bahwa Allah menyetujui keputusan tersebut.

Senin, 28 Agustus 2023

Kotbah Kejadian 24:16-20

                   Memberikan yang Terbaik

                                                           Kejadian 24:16-20


16. Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik.

17 Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: “Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.”

18. Jawabnya: “Minumlah, tuan,” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum.

19. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”

20. Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu.

 

1. Kisah yang dicatat pada nats Firman Tuhan ini diawali dari sebuah keinginan Abraham untuk mencarikan jodoh untuk anaknya Isak. Memang benarlah apa yang sering diucapkan orang  bahwa salah satu keinginan terbesar orang tua yang memiliki anak yang  dewasa adalah menikah dan membina rumah tangga yang baru.  Demikian halnya Abraham di masa tuanya menginginkan seorang menantu untuk anaknya. Tentunya sebagai orang tua Abraham memiliki kriteria tersendiri dalam memilih siapa menantunya. Disebutkan di dalam teks kotbah ini,  bahwa Abraham menginginkan menantunya, berasal dari kampungnya sendiri dari keturunan sanak saudaranya. Walaupun Abraham berada tanah Kanaan dan mengenal banyak orang di sana, tidak lantas membuat Abraham mencarikan pasangan untuk Isak di tempat tersebut. Sebaliknya dia menyuruh Eliezer pelayannya yang paling lama tinggal bersamanya untuk mencari seorang perempuan yang akan dijadikan istri Isak. Abraham sangat teliti dalam hal ini, ia tidak menginginkan anaknya menikah dengan perempuan Kanaan yang tidak percaya tetapi haruslah seorang yang mengenal Tuhan ALLAH yang mereka sembah. Sebagai orang tua yang percaya kepada Tuhan Abraham ingin Isak juga memiliki hidup yang terus beribadah dan taat kepada Tuhan Allah. Karena itu Isak juga harus  hidup dan berpasangan dengan seorang yang mengenal Allah. Abraham sangat serius akan hal ini, sampai-sampai dia menyuruh pelayannya untuk bersumpah supaya tidak mengambil perempuan dari Kanaan melainkan dari suku, sanak saudara dari kampung halamannya sendiri. Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus, sebagai orang tua atau sebagai seorang yang pemuda yang sedang mencari pasangan hidup, hal ini adalah harus sesuatu yang harus kita pertimbangkan, mencari jodoh yang seiman dan se amin. Janganlah kita terlebih dahulu melihat apa gelarnya, apa pekerjaannya, dan hartanya bagaimana? Tetapi mari melihat soal kerohaniannya terlebih dahulu dibandingkan yang lainnya. Karena sering sekali manusia terjebak di dalam hal ini saudara/i. Biasanya orang kalau mencari jodoh itu pertama sekali melihat dari bagaimana pekerjaan/profesinya, apa dia sudah punya aset, hartanya adakah? Dapat warisan apa dia nantinya.... begitulah kira-kira,,, padahal kita tahu sendiri bahwa sumber kebahagiaan bukan dari apa yang disebutkan tersebut. Ada orang yang sudah menikah, memiliki pekerjaan yang bagus dan mendapatkan gaji yang tinggi serta memiliki banyak duit. Tetapi justru dengan banyaknya duit yang dia miliki, malah berkeinginan untuk mencari perempuan lain yang lebih fresh  dan berduit. Atau seoorang yang memiliki jabatan tertentu punya jam terbang yang tinggi sehingga tidak memiliki waktu buat keluarga/ pasangan. Sehingga pasangan sering merasa kesepian. Jadi  pekerjaan, profesi, penampilan bukan jadi jaminan apakah rumah tangga itu berbahagia atau tidak.  Jadi saudara/i yang terkasih apa yang terutama kita buat kriteria mencari pasangan kita buat menantu kita? Yaitu iman, bagaimana karakternya dan sifatnya apakah seturut dengan Firman Tuhan. sebab Tuhan berkata dan menyatakan: “Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan… Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah pada musimnya, dan tak pernah layu; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

2. Setelah Eliezer mendengar dan bersumpah kepada tuannya Abraham untuk mencarikan seorang pasangan untuk Isak. Kemudian ia mempersiapkan segala perlengkapan yang diperlukan untuk pencarian jodoh tersebut; disebutkan ia membawa 10 unta dan berbagai barang-barang berharga milik tuannya dan menuju kota saudara Abraham yakni Nahor di Mesopotamia. Setelah ia sampai di pinggir kota dia kemudian berhenti beristirahat. Karena hari sudah petang dan di sanalah biasanya para perempuan keluar untuk mengambil air. Kemudian pelayan Eliezer berdoa dan meminta petunjuk tentang siapakah yang layak menjadi pasangan Isak, dalam doa permintaannya di dalam Kejadian 24:14 Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum — dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.” 24:15 Sebelum ia selesai berkata, maka datanglah Ribka, yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, isteri Nahor, saudara Abraham; buyungnya dibawanya di atas bahunya. 24:16 Anak gadis itu sangat cantik parasnya, seorang perawan, belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; ia turun ke mata air itu dan mengisi buyungnya, lalu kembali naik. 24:17 Kemudian berlarilah hamba itu mendapatkannya serta berkata: “Tolong beri aku minum air sedikit dari buyungmu itu.” 24:18 Jawabnya: “Minumlah, tuan,” maka segeralah diturunkannya buyungnya itu ke tangannya, serta diberinya dia minum. 24:19 Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, berkatalah ia: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.” 20 Kemudian segeralah dituangnya air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu.

Saudara/i yang terkasih di dalam Yesus Kristus Tuhan, ternyata hal yang kemudian yang penting di dalam mencarikan pasangan untuk Isak adalah memiliki kepribadian yang baik dan tulus. Hal ini berkaitan soal karakter/kepribadian. Apakah calon pasangan memiliki hati yang menghargai orang lain, mau berbagi dan tulus dalam kebaikannya. Selain seorang yang seiman, haruslah juga memiliki karakter yang baik. Kemudian kita melihat dan mengenal Ribka calon pasangan Isak ini. Dia memiliki kepribadian yang baik. Ketika hamba Abraham meminta air dari buyungnya, ia dengan senang hati penuh rasa hormat memberikannya air. Walaupun Eliezer orang yang belum ia kenal sebelumnya tetapi dia dengan senang hati memberi bahkan dia sendiri menawarkan supaya supaya unta-unta eliezer diberi minum juga.  Apa yang boleh kita pelajari melalui teks ini? Biarlah kita senantiasa memberikan sikap, perbuatan yang terbaik dari kita buat orang lain. Ribka sebagai perempuan yang masih gadis dan muda sudah memiliki kebaikan di dalam dirinya. Dia mampu menghargai orang lain, bahkan yang belum dia kenal sebelumnya dia perlakukan dengan baik, bahkan yang terbaik dari dirinya dia berikan buat hamba Abraham. Yakni eliezer dan juga unta-untanya.  Eliezer membawa 8 ekor unta. Unta adalah hewan yang tidak mudah haus karena mampu menyimpan banyak air di dalam tubuhnya. Seekor unta bisa menghabiskan air 150 liter atau sekitar 10 sampai 30 galon air. Kalau kita perkirakan untuk 8 ekor minum 5 galon/ ekor  atau 8 ekor dikali 5 galon berarti Ribka menyediakan 40 galon untuk untanya Eliezer. Artinya adalah Ribka pada dasarnya adalah seorang yang memiliki pribadi penolong, bermurah hati dan tulus. Bisa saja dia mengatakan kepada Eliezer, tuan sajalah yang mengambil, saya pinjamkan buyung saya. Tuan sendiri yang mengambil airnya dari sungai dan memberikannya kepada unta nya. Tetapi di sini kita melihat bagaimana sosok perempuan yang bernama Ribka kemudian dipilih Tuhan untuk menjadi pasangan Isak anak Abraham yang menerima warisan iman dan akan dipakai Tuhan meneruskan rencana Tuhan kepada Abraham dan generesinya selanjutnya.  

Saudara/i yang terkasih di dalam nama Tuhan, bagaimana kita memahami firman Tuhan ini di dalam hidup kita? Mampukah kita memberikan yang terbaik di dalam hidup kita buat keluarga kita, orang tua, dan orang ada di sekitar kita? Maukah kita mengorbankan waktu kita untuk mendengarkan cerita pengalaman dan tentang perasaan-perasaan mereka walau harus mengorbankan waktu dan kenyamanan kita, maukah kita merelakan apa yang berarti bagi kita untuk membantu orang lain, maukah kita memberikan waktu kita untuk mendengar dan memahami orang lain? Kiranya lewat kotbah ini kita semakin diteguhkan bahwa berbuat baik dan melakukan yang terbaik untuk orang lain merupakan bukti bahwa kita adalah orang yang beriman teguh kepada Tuhan, dan percayalah segala perbuatan baik sekecil apapun itu jika kita lakukan dari hati yang tulus itulah yang berkenan kepada Tuhan.


Kamis, 24 Agustus 2023

Renungan 2 tawarikh 9:1-8

 

Melayani dengan Hikmat dari Tuhan

1.       Ketika ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, maka dengan pasukan pengiring yang sangat besar dan dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal datanglah ia ke Yerusalem hendak menguji Salomo dengan teka-teki. Setelah ia sampai kepada Salomo, dipercakapkannyalah segala yang ada dalam hatinya dengan dia.

2.       Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi Salomo tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.

3.       Ketika ratu negeri Syeba melihat hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya,

4.       makanan di mejanya, cara duduk pegawai-pegawainya, cara pelayan-pelayannya melayani dan berpakaian, juru-juru minumannya dan pakaian mereka, dan korban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah TUHAN, maka tercenganglah ratu itu.

5.       Dan ia berkata kepada raja: “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu,

6.       tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan mereka sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh, setengah dari hikmatmu yang besar itu belum diberitahukan kepadaku; engkau melebihi kabar yang kudengar.

7.       Berbahagialah orang-orangmu, dan berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!

8.       Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta-Nya sebagai raja untuk TUHAN, Allahmu! Karena Allahmu mengasihi orang Israel, maka Ia menetapkan mereka untuk selama-lamanya, dan menjadikan engkau raja atas mereka untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”

 

Saudara/i yang terkasih di dalam Tuhan. Salomo merupakan seseorang yang dipilih dan ditentukan oleh Allah menjadi seorang raja yang memimpin bangsa Israel mengantikan ayahnya Daud. Ketika Salomo diangkat menjadi seorang raja, hal pertama yang dia lakukan adalah meminta hikmat dari Tuhan.  Hikmat di dalam memutuskan perkara-perkara yang terjadi di tengah-tengah kehidupan bangsa Israel. Selain itu, Salomo ketika di awal-awal masa kepemimpinannya, dia justru terlebih dahulu mengatur dan memerintahkan bangsa Israel untuk memberikan persembahan dan beridah kepada Tuhan. Dan juga meneruskan perjuangan ayahnya untuk membangun bait suci yang begitu mewah. Raja salomo dikenal sebagai seorang raja yang penuh hikmat, pengetahuan, kemasyuran dan kekayaan yang begitu luar biasa terjadi di masa kepemimpinanya. Kekayaan hikmat dan kejayaannya tersebar ke daerah lain kepada bangsa-bangsa yang lain. Hal ini terbukti dengan adanya kunjungan ratu Syeba yang ingin memastikan kabar yang ia dengar perihal kebijaksanaan dan hikmat Salomo. Setelah dia melihat-lihat bagaimana hikmat Salomo dengan rumah istana yang didirikannya, serta makanan, cara duduk pegawainya, cara pelayan-pelayannya berpakaian, juru-juru minuman dan pakaiannya dan bagaimana mereka mempersembahkan korban bakaran untuk Tuhan. Dia lebih heran atas apa yang dia lihat dibandingkan dengan cerita yang ia dengar.

Pada ayat 2 dan ayat 8 terdapat korelasi yang kuat . Dikatakan,:” Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi Salomo tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu.”  Sehingga muncullah perkataan ratu Syeba pada ayat yang ke-8, bunyinya;” Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta-Nya sebagai raja untuk TUHAN, Allahmu! Karena Allahmu mengasihi orang Israel, maka Ia menetapkan mereka untuk selama-lamanya, dan menjadikan engkau raja atas mereka untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”

Ada kalimat “Tidak ada yang tersembunyi” memiliki pengertian bahwa Salomo menjelaskan bahwa kekayaan hikmat, pengetahuan dan kemasyurannya adalah berasal dari Tuhan. Dia tidak berusaha untuk mencuri kemuliaan Tuhan. Ada begitu banyak jawaban yang boleh dia berikan, bisa saja dia mengatakan bahwa semua yang dia miliki atas usaha dan kepintarannya sendiri. Atau karena dia sangat lihai dalam segala hal sehingga ia mendapatkan kemasyuran itu. Tetapi dia tidak melakukannya, bisa dipastikan bahwa selama percakapannya denga ratu Syeba segala kalimat yang dia ucapkan adalah ungkapan pengakuan atas kemahakuasaan Allah, kasih karunia Allah yang bekerja di dalam hidupnya. Sehingga pada akhirnya ratu Syeba juga turut kagum pada Allah yang disembah Salomo. Dikatakan pada ayat 8. Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta-Nya sebagai raja untuk TUHAN, Allahmu! Karena Allahmu mengasihi orang Israel, maka Ia menetapkan mereka untuk selama-lamanya, dan menjadikan engkau raja atas mereka untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”  Dari cerita ini kita belajar, “jangan pernah mencuri kemuliaan Tuhan.” pelayanan, karir, atau usaha yang boleh berjalan dengan baik dan berhasil di dalam hidup yang kita peroleh jangan membuat kita meninggikan diri, menjadi sombong, kita jangan mencuri kemuliaan Tuhan dengan menonjolkan ke “aku”an, meninggikan keberadaan diri kita. Tetapi sebaliknya biarlah Tuhan yang terus kita tinggikan dan kita permuliakan. Seperti perkataan Yohanes di dalam Yohanes 3:30 :” Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Saudara-saudari yang terkasih di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus. Hikmat dan kebijaksaan Salomo adalah anugerah dari Tuhan. Ketika dia dilantik menjadi raja hal pertama yang dia lakukan adalah berdoa kepada Tuhan meminta hikmat, serta pada perjalanan hidupnya dia adalah orang yang selalu taat dan setia beribadah kepada Tuhan. Hal ini terbukti saat ratu Syeba datang, Salomo memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mempersiapkan korban bakaran untuk Tuhan. Di dalam Amsal 1:7a disebutkan, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Bisa dikatakan bahwa hikmat kita peroleh saat kita juga hidup dengan rasa hormat dan tunduk kepada-Nya.” Kita setuju bahwa hikmat Salomo diawali dari kesetiaan dan ketundukan dan kepasrahan kepada Tuhan. Demikianlah kiranya kita di dalam menjalani kehidupan, mari beri ruang di di dalam hati dan pikiran untuk selalu diisi oleh Firman Tuhan, disertai rasa hormat dan kagum serta menjauhi larangannya. Hidup selalu bergantung dan mengandalkan kekuatan dan Kuasa dari Tuhan di dalam segala hal. Sehingga oleh kemurahanNya kita diberikan hikmat.

Saudara/i yang terkasih di dalam Tuhan. hikmat, kekayaan dan kepandaian adalah bersumber dari-Nya. Jikalau saat ini kita dikaruniai jabatan, pendidikan dengan gelar yang tinggi, talenta, skill, kekayaan, harta, serta kepandaian untuk melakukan berbagai hal di dalam hidup akuilah bahwa semua itu adalah dari-Nya. Semua yang ada di dalam hidup kita ini adalah anugerah/pemberian dari Tuhan. ketika kita ingin mendapatkan sesuatu kita meminta kepada Tuhan supaya memberkati hidup kita. Tetapi ketika kita sudah mendapatkannya janganlah kita melupakan Tuhan. Tetapi melalui kehidupan Salomo kita belajar bahwa biarlah melalui kelebihan-kelebihan kita, atas apa yang ada pada kita menjadi alat kesaksian yang boleh membuat orang lain semakin mengenal Allah. Kepandaian, talenta, skill, harta, jabatan atau bahkan tenaga yang kita miliki menjadi alat untuk memuliakan Tuhan.

 

Selasa, 22 Agustus 2023

Kotbah 2 Korintus 8:1-7

                 Memberi sebagai bukti Kasih

Seorang perempuan yang baru saja beribadah terlihat sangat antusias dan bersemangat menjumpai suaminya yang sedang mengambil rumput untuk hewan ternak mereka. Pada saat itu seekor sapi betina sedang bunting dan akan beranak.  Kemudian si istri berkata kepada suaminya. “Suamiku....! saya barusan mendengar kotbah seorang pendeta yang mengatakan semakin banyak memberi hidupnya akan semakin diberkati. Bagaimana kalau satu anak sapi ini nanti kita jual lalu hasilnya kita berikan persembahan untuk Tuhan.” Demikian ucap sang istri tersebut. Kemudian sang suami mengangguk dan sepakat atas usulan sang istri. Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, si sapi pun beranak dan anaknya hanya dua ekor. Pada suatu hari, sebulan kemudian suaminya menemukan  salah satu sapi mengalami sakit dan mati. Kemudian sang suami berpikir kalau yang sisa diberikan untuk Tuhan berarti mereka tidak memiliki anak sapi lagi. Akhirnya dia pun punya akal, lalu dia pulang ke rumah sambil berteriak memanggil istrinya, lalu berucap, “ istriku..... sapinya Tuhan sudah meninggal, sapinya Tuhan sudah meninggal.” Demikian ucapnya. Sehingga akhirnya mereka tidak memenuhi apa yang mereka janjikan kepada Tuhan.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa seringkali perbuatan baik dan memberikan tanda kasih kepada Tuhan atau sesama adalah perbuatan yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi seringkali banyak hal yang membuat kita enggan untuk melakukannya. Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus Tuhan. Sering sekali dalam hal memberi adalah sesuatu yang sangat sulit untuk kita lakukan. Ada orang yang memiliki banyak uang, harta yang melimpah bahkan sampai keturunan yang ketujuh hartanya takkan habis. Tetapi dalam hal memberi sangat susah apalagi hanya Cuma-Cuma. Dia akan memberikan bantuan atau sesuatu kepada orang lain jika ada sesuatu yang berguna untuk dia atau imbalan yang dia dapatkan. Tetapi sebaliknya ada juga orang memberi di dalam kekurangan. Salah satu contoh kisah seorang janda yang memberikan persembahan :

41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk. 12:41-44). Dari kisah ini kita melihat bahwa dalam hal memberi sering sekali diukur dari kuantitasnya tetapi sebaliknya Tuhan melihat hati dan motivasi dari orang yang memberi.

 Dari surat Paulus kepada jemaat-jemaat di kota Korintus kita akan mempelajari Kehidupan orang-orang Kristen pada abad pertama yang mengalami banyak tantangan, penganiayaan dari kekaisaran Romawi. Penguasa Romawi berusaha untuk melenyapkan dan menggusir orang-orang Kristen dengan tujuan supaya orang Kristen tidak lagi berada di daerah Romawi. Tetapi uniknya kekristenan berkembang sangat luar biasa, dan jemaat-jemaat Tuhan bertumbuh dengan baik, banyak orang yang bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Menariknya ketertarikan orang lain menjadi pengikut Kristus pada waktu itu bukan karena kemewahan ataupun penampilan mereka yang terlihat mapan. Tetapi justru gaya hidup di dalam kesederhanaan dan kekuatan terbesar mereka adalah hidup di dalam Kasih. Hidup mereka penuh dengan motivasi kasih. orang-orang Kristen dengan sukarela memberikan harta mereka untuk menopang yang berkekurangan, membantu dan mendoakan orang yang sakit, serta memperhatikan yang lemah. Salah satu hal yang mendorong orang lain untuk masuk agama Kristena adalah kegigihan dan komitmen mereka untuk mempertahankan iman mereka walau nyawa mereka terancam bahkan ada yang harus mati martir.

Hal ini jugalah yang diberitakan oleh Paulus kepada jemaat yang ada di kota Korintus tentang jemaat yang ada di Makedonia yang memberi di dalam situasi sulit. Jemaat-jemaat yang ada di Makedonia sepakat untuk memberikan bantuan kepada jemaat yang di Yerusalem dan di daerah Yudea. Padalah mereka sendiri berada di dalam penderitaan dan kesulitan. Saat itu mereka sedang mengalami kekeringan sehingga gagal panen, dan juga sedang mengalami penganiayaan. Tetapi hal ini tidak menghalangi jemaat-jemaat Makedonia bermurah hati. Bahkan Paulus sendiri mengungkapkan kekagumannya atas kebaikan hati jemaat Makedonia.

8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.

Paulus juga menghimbau jemaat-jemaat yang ada di kota Korintus untuk meneladani jemaat Makedonia, apalagi mereka memiliki kemampuan sumber daya ataupun pengetahuan mereka jauh melampaui keadaan jemaat Makedonia. Mereka harus melihat bahwa Jemaat yang ada di Makedonia sebagai contoh yang patut di kagumi.  Mereka memberi bukan karena kemampuan atau keberadaan mereka yang sudah layak untuk memberikan tetapi mereka memberi dari kekurangan dan dari keterpurukan mereka.  Paulus memahami bahwa pemberian kasih mereka semata-mata karena iman dan kasih mereka yang begitu besar di dalam hati mereka. Mereka tidak pernah menganggap memberi sebagai beban. Artinya jemaat-jemaat Makedonia menjadi teladan bagi jemaat-jemaat yang lainnya tentang keteladanan kasih.

Paulus menegaskan bahwa mereka memberi  untuk Tuhan kemudian oleh kehendak Tuhan mereka memberikan kepada jemaat dan pelayan-pelayan kudus. Ay. 5 “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”   Apa yang boleh kita pahami dari sini? Pertama.  Memahami bahwa hidup kita adalah sesuatu yang harus kita berikan untuk menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Memahami bahwa hidup adalah hanya kasih karunia Tuhan dan apa yang dimiliki adalah milik Tuhan. Tunduk sepenuhnya kepada sang Pencipta yang memberikan segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini. Kedua, motivasi menjalani hidup adalah kasih. Ketika kasih adalah prinsip dan tujuan hidup maka kita akan lebih mudah mengasihi orang lain dibandikan jika prinsip dan tujuan hidup yakni soal untuk dan manfaat apalagi untuk memenuhi ego dan iri maka hidup ini tidak akan mampu mengasihi.

Dari surat Paulus ini juga kita belajar beberapa Hal:

1.       Kita harus memahami bahwa Kasih adalah prinsip yang mengikat kehidupan kita. Sama seperti hubungan kita dengan Allah, manusia diperdamaikan dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus juga  karena kasih. Yoh. 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kehidupan yang menerima kasih akan cenderung mengasihi yang lainnya. Sama seperti jemaat-jemaat Makedonia yang merasakan dan menyadari kasih Allah dan hidup di dalam kasih itu. Hal itu mendorong mereka untuk mengasihi orang lain.

2.       Memberi di dalam kelimpahan adalah sesuatu yang lazim dan sering dilakukan oleh sebagian besar orang dalam hal memberi. Tetapi memberi di dalam kekurangan adalah perbuatan yang hanya sebagian kecil saja yang mampu melakukannnya. Dalam hal memberi bukan saja kita pahami hanya dari segi materi ataupun uang. Seperti pemahaman Paulus tentang jemaat Korintus.  8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Artinya jika kita hanya mampu memberikan tenaga kita, mari kita berikan sebagai bukti kasih, jika kita mampu memberikan ilmu atau pengetahuan kita; mari kita berikan sebagai bukti kasih kita, jika kita hanya mampu memberikan senyuman; mari kita beri senyuman tulus bagi sesama kita, karena senyuman bisa menjadi obat bagi orang lain. Apapun yang boleh kita beri dan perbuat bagi orang lain, maka seharusnya kita lakukan itu sebagai bukti kasih kita sebagaimana Tuhan mengasihi kita.

3.       Memberi di dalam kekurangan memang sangat sulit untuk dilakukan. Tersenyum disaat kita menangis sangat susah dilakukan, menghibur orang lain saat hati berduka juga tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Memberi makan orang lain saat kita lapar, mencintai walau sering disakiti, mengampuni walau sedang diejek dan direndahkan juga tidak banya orang mampu melakukannya. Tetapi melalui Firman Tuhan ini kita diajarkan dan diingatkan untuk memberikan pelayanan kasih kita terhadap orang lain.

4.       Orang disebut kaya bukan karena ia memiliki harta, tetapi karena merasakan kebahagiaan atas apa yang dimilikinya dan atas apa yang diberikan kepada sesama (harta, pikiran, tenaga dan nasihat), Yesus berkata  :”adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima).

 

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...