Selasa, 22 Agustus 2023

Kotbah 2 Korintus 8:1-7

                 Memberi sebagai bukti Kasih

Seorang perempuan yang baru saja beribadah terlihat sangat antusias dan bersemangat menjumpai suaminya yang sedang mengambil rumput untuk hewan ternak mereka. Pada saat itu seekor sapi betina sedang bunting dan akan beranak.  Kemudian si istri berkata kepada suaminya. “Suamiku....! saya barusan mendengar kotbah seorang pendeta yang mengatakan semakin banyak memberi hidupnya akan semakin diberkati. Bagaimana kalau satu anak sapi ini nanti kita jual lalu hasilnya kita berikan persembahan untuk Tuhan.” Demikian ucap sang istri tersebut. Kemudian sang suami mengangguk dan sepakat atas usulan sang istri. Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, si sapi pun beranak dan anaknya hanya dua ekor. Pada suatu hari, sebulan kemudian suaminya menemukan  salah satu sapi mengalami sakit dan mati. Kemudian sang suami berpikir kalau yang sisa diberikan untuk Tuhan berarti mereka tidak memiliki anak sapi lagi. Akhirnya dia pun punya akal, lalu dia pulang ke rumah sambil berteriak memanggil istrinya, lalu berucap, “ istriku..... sapinya Tuhan sudah meninggal, sapinya Tuhan sudah meninggal.” Demikian ucapnya. Sehingga akhirnya mereka tidak memenuhi apa yang mereka janjikan kepada Tuhan.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa seringkali perbuatan baik dan memberikan tanda kasih kepada Tuhan atau sesama adalah perbuatan yang sangat mudah untuk diucapkan tetapi seringkali banyak hal yang membuat kita enggan untuk melakukannya. Saudara/i yang terkasih di dalam Kristus Tuhan. Sering sekali dalam hal memberi adalah sesuatu yang sangat sulit untuk kita lakukan. Ada orang yang memiliki banyak uang, harta yang melimpah bahkan sampai keturunan yang ketujuh hartanya takkan habis. Tetapi dalam hal memberi sangat susah apalagi hanya Cuma-Cuma. Dia akan memberikan bantuan atau sesuatu kepada orang lain jika ada sesuatu yang berguna untuk dia atau imbalan yang dia dapatkan. Tetapi sebaliknya ada juga orang memberi di dalam kekurangan. Salah satu contoh kisah seorang janda yang memberikan persembahan :

41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk. 12:41-44). Dari kisah ini kita melihat bahwa dalam hal memberi sering sekali diukur dari kuantitasnya tetapi sebaliknya Tuhan melihat hati dan motivasi dari orang yang memberi.

 Dari surat Paulus kepada jemaat-jemaat di kota Korintus kita akan mempelajari Kehidupan orang-orang Kristen pada abad pertama yang mengalami banyak tantangan, penganiayaan dari kekaisaran Romawi. Penguasa Romawi berusaha untuk melenyapkan dan menggusir orang-orang Kristen dengan tujuan supaya orang Kristen tidak lagi berada di daerah Romawi. Tetapi uniknya kekristenan berkembang sangat luar biasa, dan jemaat-jemaat Tuhan bertumbuh dengan baik, banyak orang yang bertobat dan menjadi pengikut Kristus. Menariknya ketertarikan orang lain menjadi pengikut Kristus pada waktu itu bukan karena kemewahan ataupun penampilan mereka yang terlihat mapan. Tetapi justru gaya hidup di dalam kesederhanaan dan kekuatan terbesar mereka adalah hidup di dalam Kasih. Hidup mereka penuh dengan motivasi kasih. orang-orang Kristen dengan sukarela memberikan harta mereka untuk menopang yang berkekurangan, membantu dan mendoakan orang yang sakit, serta memperhatikan yang lemah. Salah satu hal yang mendorong orang lain untuk masuk agama Kristena adalah kegigihan dan komitmen mereka untuk mempertahankan iman mereka walau nyawa mereka terancam bahkan ada yang harus mati martir.

Hal ini jugalah yang diberitakan oleh Paulus kepada jemaat yang ada di kota Korintus tentang jemaat yang ada di Makedonia yang memberi di dalam situasi sulit. Jemaat-jemaat yang ada di Makedonia sepakat untuk memberikan bantuan kepada jemaat yang di Yerusalem dan di daerah Yudea. Padalah mereka sendiri berada di dalam penderitaan dan kesulitan. Saat itu mereka sedang mengalami kekeringan sehingga gagal panen, dan juga sedang mengalami penganiayaan. Tetapi hal ini tidak menghalangi jemaat-jemaat Makedonia bermurah hati. Bahkan Paulus sendiri mengungkapkan kekagumannya atas kebaikan hati jemaat Makedonia.

8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.

Paulus juga menghimbau jemaat-jemaat yang ada di kota Korintus untuk meneladani jemaat Makedonia, apalagi mereka memiliki kemampuan sumber daya ataupun pengetahuan mereka jauh melampaui keadaan jemaat Makedonia. Mereka harus melihat bahwa Jemaat yang ada di Makedonia sebagai contoh yang patut di kagumi.  Mereka memberi bukan karena kemampuan atau keberadaan mereka yang sudah layak untuk memberikan tetapi mereka memberi dari kekurangan dan dari keterpurukan mereka.  Paulus memahami bahwa pemberian kasih mereka semata-mata karena iman dan kasih mereka yang begitu besar di dalam hati mereka. Mereka tidak pernah menganggap memberi sebagai beban. Artinya jemaat-jemaat Makedonia menjadi teladan bagi jemaat-jemaat yang lainnya tentang keteladanan kasih.

Paulus menegaskan bahwa mereka memberi  untuk Tuhan kemudian oleh kehendak Tuhan mereka memberikan kepada jemaat dan pelayan-pelayan kudus. Ay. 5 “Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.”   Apa yang boleh kita pahami dari sini? Pertama.  Memahami bahwa hidup kita adalah sesuatu yang harus kita berikan untuk menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Memahami bahwa hidup adalah hanya kasih karunia Tuhan dan apa yang dimiliki adalah milik Tuhan. Tunduk sepenuhnya kepada sang Pencipta yang memberikan segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan ini. Kedua, motivasi menjalani hidup adalah kasih. Ketika kasih adalah prinsip dan tujuan hidup maka kita akan lebih mudah mengasihi orang lain dibandikan jika prinsip dan tujuan hidup yakni soal untuk dan manfaat apalagi untuk memenuhi ego dan iri maka hidup ini tidak akan mampu mengasihi.

Dari surat Paulus ini juga kita belajar beberapa Hal:

1.       Kita harus memahami bahwa Kasih adalah prinsip yang mengikat kehidupan kita. Sama seperti hubungan kita dengan Allah, manusia diperdamaikan dengan Allah melalui Tuhan Yesus Kristus juga  karena kasih. Yoh. 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kehidupan yang menerima kasih akan cenderung mengasihi yang lainnya. Sama seperti jemaat-jemaat Makedonia yang merasakan dan menyadari kasih Allah dan hidup di dalam kasih itu. Hal itu mendorong mereka untuk mengasihi orang lain.

2.       Memberi di dalam kelimpahan adalah sesuatu yang lazim dan sering dilakukan oleh sebagian besar orang dalam hal memberi. Tetapi memberi di dalam kekurangan adalah perbuatan yang hanya sebagian kecil saja yang mampu melakukannnya. Dalam hal memberi bukan saja kita pahami hanya dari segi materi ataupun uang. Seperti pemahaman Paulus tentang jemaat Korintus.  8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Artinya jika kita hanya mampu memberikan tenaga kita, mari kita berikan sebagai bukti kasih, jika kita mampu memberikan ilmu atau pengetahuan kita; mari kita berikan sebagai bukti kasih kita, jika kita hanya mampu memberikan senyuman; mari kita beri senyuman tulus bagi sesama kita, karena senyuman bisa menjadi obat bagi orang lain. Apapun yang boleh kita beri dan perbuat bagi orang lain, maka seharusnya kita lakukan itu sebagai bukti kasih kita sebagaimana Tuhan mengasihi kita.

3.       Memberi di dalam kekurangan memang sangat sulit untuk dilakukan. Tersenyum disaat kita menangis sangat susah dilakukan, menghibur orang lain saat hati berduka juga tidak banyak orang yang mampu melakukannya. Memberi makan orang lain saat kita lapar, mencintai walau sering disakiti, mengampuni walau sedang diejek dan direndahkan juga tidak banya orang mampu melakukannya. Tetapi melalui Firman Tuhan ini kita diajarkan dan diingatkan untuk memberikan pelayanan kasih kita terhadap orang lain.

4.       Orang disebut kaya bukan karena ia memiliki harta, tetapi karena merasakan kebahagiaan atas apa yang dimilikinya dan atas apa yang diberikan kepada sesama (harta, pikiran, tenaga dan nasihat), Yesus berkata  :”adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...