Bahan Sermon Sekolah Minggu, 06
Oktober 2019
Nats : Filipi 4:10-12
Tema :
Menggunakan yang ada
Belajar Mencukupkan Diri dan
Menggunakan Yang Ada
I. Pendahuluan
Surat
Filipi adalah dituliskan oleh Paulus
kepada jemaat yang ada di Filipi. Paulus, yang awalnya bernama Saulus,
adalah seorang Yahudi yang lahir dan dibesarkan di Tarsus, provinsi Kilikia,
wilayah Asia Kecil. Dia adalah keturunan suku Benyamin dan termasuk orang
Ibrani. Paulus melewatkan masa mudanya di Yerusalem, di bawah pimpinan Gamaliel
, salah seorang rabi Yahudi yang sangat termasyhur. Di sana, ia dididik menurut
hukum nenek moyangnya (Sebagai calon rabi, Saulus diwajibkan memiliki
keterampilan tertentu, sehingga ke depannya dia bisa mengajar tanpa membebani
masyarakat. Paulus memilih industri yang khas dari kota Tarsus, yaitu membuat
tenda dari bulu domba. Dapat disebutkan juga bahwa Paulus dari masa mudanya
sudah memiliki hidup yang berkecukupan dan tinggal di lingkungan para
bangsawan. Hingga masa di mana ia memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan,
tidak terlalu mempersoalkan masalah
kebutuhan sehari-hari tetapi pada perikop ini disebutkan bahwa ia
belajar untuk mencukupkan diri. Pentingnya hidup kristen untuk mencukupkan diri
dengan menggunakan apa yang dimiliki adalah sebuah hikmat yang luar biasa dari
Tuhan karena belajar bersyukur jauh lebih baik dan benar dihadapan Tuhan. Pada
perikop ini akan dijelaskan lebih dalam lagi.
II.
Isi
Pada
perikop ini tampaknya kita akan belajar sebuah rahasia sorgawi dalam memandang
harta benda yang dimiliki dan kaitannya dengan kebahagiaan hidup, yakni
bagaimana tentang Menggunakan apa yang ada
dan belajar mencukupkan diri. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami supaya
kita mampu hidup mencukupkan diri:
1. Ayat 10 “berusaha untuk memahami keadaan orang
lain”
Sungguh suatu hal yang sangat indah melihat
orang-orang yang sangat dilimpahi Allah dengan karunia-karunia anugerah-Nya,
juga berlimpah kembali dalam membalas kembali karunia-karunia itu dengan penuh
syukur kepada umat-Nya dan hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kemampuan mereka dan
kebutuhan umat dan hamba-hamba Allah, Sesuai dengan kemampuan mereka dan
kebutuhan umat dan hamba-hamba Allah. Jemaat di Filipi tampaknya sudah mmeberi
sekali atau dua kali kepada Paulus. Paulus menyebutkan bahwa kebaikan mereka
yang dulu ini bukan hanya karena rasa terimakasih, melainkan membesarkan hati
mereka. Paulus juga memaafkan pengabaian
mereka belakangan ini, tampaknya selama beberapa bulan mereka mengabaikannya,
tidak menanyakan kabarnya, atau mengirimkan sesuatu apapun kepadanya, tetapi
akhirnya pikiran dan perasaan mereka bertumbuh kembali untuk dia “tetapi akhirnya pikiran dan perasaan mereka
bertumbuh kembali untuk dia (4:10).
2. Ayat 11-12, “ bersyukur dengan apa yang dimiliki”
Menyesuaikan diri dengan kesusahan dan
kesejahteraan adalah penekanan yang penting. Merasakan dan menyesuaikan diri
dalam situasi sengara dan tidak jatuh karenanya, demikian juga di saat yang
berkelimpahan dapat menahan diri untuk tidak merasa sombon, dan mampu menahan
diri. Kemudian dilanjutkan perkataa “kukatakan
kepadamu bukan karena aku kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri
dalam segala hal”. Paulus tidak merasa kekurangan atau takut kekurangan.
Mengenai hal kekurangan, ia sudah mencukupkan diri dengan sedikit yang
dimilikinya, dan itu sudah puas. Sudah menjadi sifat manusia tidak
puas dengan apa yang ada atau dimilikinya. Inginnya mendapatkan lebih dan
lebih seperti ada tertulis: "Siapa mencintai uang tidak akan puas
dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan
penghasilannya." (Pengkotbah 5:9a). Sifat tidak puas
terhadap uang atau kekayaan telah mendorong banyak orang untuk melakukan
tindakan yang melanggar hukum atau bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan,
dan rasa-rasanya tradisi tidak punya
malu ini sudah kian mewabah di berbagai kalangan. Itulah sebabnya
sejak dulu Yohanes Pembaptis memperingatkan para pemungut pajak (yaitu
orang-orang yang bekerja di kantor pajak), "Jangan menagih lebih
banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Lukas 3:13),
dan juga para prajurit (yaitu karyawan, pegawai), "Jangan
merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."
(Lukas 3:14b).
3. Ayat 13 “bergantung kepada pemeliharaan Tuhan”
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku” Artinya kita sangat memerlukan kekuatan
daripada Kristus untuk kuat. Termasuk
uang kita. Jika kita diberi uang dari orang tua setiap bulan, bukankah Tuhan
juga yang telah memberkati usaha mereka sehingga dapat mencukupi kebutuhan
kita? Jika kita sudah bekerja dan mendapat uang atas kerja keras kita pun,
bukankah Tuhan juga yang mengaruniakan kita kesehatan dan hikmat untuk bisa
bekerja? Raja Daud pun tidak
berbangga diri atas semua aset kerajaan-Nya. Ia menulis, “…kekayaan dan
kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya;
dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan
dan mengokohkan segala-galanya.” (1 Tawarikh 12:29). Ketika menyadari
bahwa apa yang kita punya adalah miliki Tuhan, termasuk uang kita, kita tidak
akan sembarangan menggunakannya. Kita harus mengelola apa yang Tuhan percayakan
sebaik mungkin untuk memuliakan-Nya.
III. Kesimpulan/Refleksi
Dari
penjelasan di atas dapatlah kita ambil makna bahwa kehidupan yang beriman
adalah kehidupan yang mampu mengucap syukur, bersukacita atas apa yang sudah
ada dan dimiliki di dalam kehidupan ini. Termasuk atas peristiwa-peristiwa yang
terjadi di dalam kehidupan sehari-hari harus mampu disyukuri. Menggunakan apa
yang ada dan mencukupkan diri dengan segala sesuatu adalah sebuah sikap bahwa
hidupNya tidak tergantung pada apa yang ada tetapi kemudian melatih diri untuk
menyerahkan dan bergantung kepada pemeliharaan Tuhan yang maha Esa.
Penerapan
Kelas
kecil: - Menyebutkan tema, Menyebutkan Mainann/baju/barang-barang yang
lain yang masih bagus tapi masih bisa digunakan, contoh-contoh kebiasaan
sehari-hari untuk mencukupkan diri.
Kelas
besar : - menyebutkan defenisi tema dan menyebutkan
contoh-contoh mendaftarkan benda-benda yang masih bisa dimiliki dan bisa
digunakan. Menyebutkan pentingnya menggunakan barang-barang yang masih bisa
digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar