Selasa, 21 Januari 2020

Belajar Mencukupkan Diri


Bahan Sermon Sekolah Minggu, 06 Oktober 2019
Nats     :  Filipi 4:10-12
Tema   :  Menggunakan yang ada
Belajar Mencukupkan Diri dan Menggunakan Yang Ada
I.     Pendahuluan
Surat Filipi  adalah dituliskan oleh Paulus kepada jemaat yang ada di Filipi.  Paulus, yang awalnya bernama Saulus, adalah seorang Yahudi yang lahir dan dibesarkan di Tarsus, provinsi Kilikia, wilayah Asia Kecil. Dia adalah keturunan suku Benyamin dan termasuk orang Ibrani. Paulus melewatkan masa mudanya di Yerusalem, di bawah pimpinan Gamaliel , salah seorang rabi Yahudi yang sangat termasyhur. Di sana, ia dididik menurut hukum nenek moyangnya (Sebagai calon rabi, Saulus diwajibkan memiliki keterampilan tertentu, sehingga ke depannya dia bisa mengajar tanpa membebani masyarakat. Paulus memilih industri yang khas dari kota Tarsus, yaitu membuat tenda dari bulu domba. Dapat disebutkan juga bahwa Paulus dari masa mudanya sudah memiliki hidup yang berkecukupan dan tinggal di lingkungan para bangsawan. Hingga masa di mana ia memberikan hidupnya untuk melayani Tuhan, tidak terlalu mempersoalkan masalah  kebutuhan sehari-hari tetapi pada perikop ini disebutkan bahwa ia belajar untuk mencukupkan diri. Pentingnya hidup kristen untuk mencukupkan diri dengan menggunakan apa yang dimiliki adalah sebuah hikmat yang luar biasa dari Tuhan karena belajar bersyukur jauh lebih baik dan benar dihadapan Tuhan. Pada perikop ini akan dijelaskan lebih dalam lagi.
II.   Isi  
Pada perikop ini tampaknya kita akan belajar sebuah rahasia sorgawi dalam memandang harta benda yang dimiliki dan kaitannya dengan kebahagiaan hidup, yakni bagaimana tentang Menggunakan  apa yang ada dan belajar mencukupkan diri. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami supaya kita mampu hidup mencukupkan diri:
1.      Ayat 10 “berusaha untuk memahami keadaan orang lain”
Sungguh suatu hal yang sangat indah melihat orang-orang yang sangat dilimpahi Allah dengan karunia-karunia anugerah-Nya, juga berlimpah kembali dalam membalas kembali karunia-karunia itu dengan penuh syukur kepada umat-Nya dan hamba-hamba-Nya, sesuai dengan kemampuan mereka dan kebutuhan umat dan hamba-hamba Allah, Sesuai dengan kemampuan mereka dan kebutuhan umat dan hamba-hamba Allah. Jemaat di Filipi tampaknya sudah mmeberi sekali atau dua kali kepada Paulus. Paulus menyebutkan bahwa kebaikan mereka yang dulu ini bukan hanya karena rasa terimakasih, melainkan membesarkan hati mereka.  Paulus juga memaafkan pengabaian mereka belakangan ini, tampaknya selama beberapa bulan mereka mengabaikannya, tidak menanyakan kabarnya, atau mengirimkan sesuatu apapun kepadanya, tetapi akhirnya pikiran dan perasaan mereka bertumbuh kembali untuk dia “tetapi akhirnya pikiran dan perasaan mereka bertumbuh kembali untuk dia (4:10).
2.      Ayat 11-12, “ bersyukur dengan apa yang dimiliki”
Menyesuaikan diri dengan kesusahan dan kesejahteraan adalah penekanan yang penting. Merasakan dan menyesuaikan diri dalam situasi sengara dan tidak jatuh karenanya, demikian juga di saat yang berkelimpahan dapat menahan diri untuk tidak merasa sombon, dan mampu menahan diri.  Kemudian dilanjutkan perkataa “kukatakan kepadamu bukan karena aku kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala hal”. Paulus tidak merasa kekurangan atau takut kekurangan. Mengenai hal kekurangan, ia sudah mencukupkan diri dengan sedikit yang dimilikinya, dan itu sudah puas.  Sudah menjadi sifat manusia tidak puas dengan apa yang ada atau dimilikinya.  Inginnya mendapatkan lebih dan lebih seperti ada tertulis:  "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya."  (Pengkotbah 5:9a).  Sifat tidak puas terhadap uang atau kekayaan telah mendorong banyak orang untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum atau bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dan rasa-rasanya tradisi tidak punya malu ini sudah kian mewabah di berbagai kalangan.  Itulah sebabnya sejak dulu Yohanes Pembaptis memperingatkan para pemungut pajak  (yaitu orang-orang yang bekerja di kantor pajak),  "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu."  (Lukas 3:13), dan juga para prajurit (yaitu karyawan, pegawai),  "Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."  (Lukas 3:14b).

3.      Ayat 13 “bergantung kepada pemeliharaan Tuhan”
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” Artinya kita sangat memerlukan kekuatan daripada Kristus untuk kuat. Termasuk uang kita. Jika kita diberi uang dari orang tua setiap bulan, bukankah Tuhan juga yang telah memberkati usaha mereka sehingga dapat mencukupi kebutuhan kita? Jika kita sudah bekerja dan mendapat uang atas kerja keras kita pun, bukankah Tuhan juga yang mengaruniakan kita kesehatan dan hikmat untuk bisa bekerja?       Raja Daud pun tidak berbangga diri atas semua aset kerajaan-Nya. Ia menulis, “…kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.” (1 Tawarikh 12:29). Ketika menyadari bahwa apa yang kita punya adalah miliki Tuhan, termasuk uang kita, kita tidak akan sembarangan menggunakannya. Kita harus mengelola apa yang Tuhan percayakan sebaik mungkin untuk memuliakan-Nya.
III.   Kesimpulan/Refleksi
Dari penjelasan di atas dapatlah kita ambil makna bahwa kehidupan yang beriman adalah kehidupan yang mampu mengucap syukur, bersukacita atas apa yang sudah ada dan dimiliki di dalam kehidupan ini. Termasuk atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari harus mampu disyukuri. Menggunakan apa yang ada dan mencukupkan diri dengan segala sesuatu adalah sebuah sikap bahwa hidupNya tidak tergantung pada apa yang ada tetapi kemudian melatih diri untuk menyerahkan dan bergantung kepada pemeliharaan Tuhan yang maha Esa.
Penerapan
Kelas kecil:  -    Menyebutkan tema,  Menyebutkan Mainann/baju/barang-barang yang lain yang masih bagus tapi masih bisa digunakan, contoh-contoh kebiasaan sehari-hari untuk mencukupkan diri.
Kelas besar :    -     menyebutkan defenisi tema dan menyebutkan contoh-contoh mendaftarkan benda-benda yang masih bisa dimiliki dan bisa digunakan. Menyebutkan pentingnya menggunakan barang-barang yang masih bisa digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...