Bahan
Sermon Sekolah Minggu, 29 September 2019
Nats
:
Lukas 15:11-17
Tema : Hemat
Mempraktekkan hidup berhemat
Pendahuluan
Dalam
KBBI kata hemat diartikan berhati-hati
dalam membelanjakan uang, dan sebagainya; tidak boros; cermat. Sedangkan
berhemat berdikit-dikit atau berhati-hati. Kata lain yang sering digunakan
dalam kata kerja adalah menghemat yang artinya menggunakan sesuatu dengan
cermat dan hati-hati supaya jangan lekas habis (rusak dan sebagainya);
menggunakan sebaik-baiknya. Jadi Hemat adalah sikap
berhati-hati dalam menggunakan atau mengeluarkan uang, barang, tenaga, pikiran,
atau waktu dalam mewujudkan cita-cita, tidak bersikap boros berarti bahwa
dalam memenuhi keperluan hidup harus berhati-hati tidak boros, cermat dalam
menggunakan uang, barang, dan sebagainya. Hemat bukan berarti pelit karena hemat hanya
berpikir lebih dalam bagaimana dia menggunakan uangnya untuk hal yang lebih
berguna dan bermanfaat tetapi pelit, sengaja apa yang dia miliki dia simpan,
tahan supaya harta kekayaannya tidak berkurang.
Penjelasan
Teks
Pada Perikop ini, “Yesus berkata lagi: "Ada seorang
mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah
kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya
membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian
anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di
sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah
dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan
iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri
itu. pada Anak bungsu dengan sengaja memberontak dan meminta semua harta
bagiannya untuk dapat berfoya-foya. Hidup dalam kehidupan berdosa, sampai
kemudian kehabisan harta dan harus hidup dalam penderitaan dan kelaparan. Saat
itulah ia sadar, bertobat dan kembali kepada sang Bapa. Apa yang bisa kita
ambil hikmah dari cerita ini?
1. Sikap seorang yang tidak sedang
berada dalam jangkauan sang ayah dan menganggap dirinya mampu sehingga
menimbulkan sikap yang sombong dan tidak membutuhkan nasehat sang ayah dalam
menjalani masa mudanya. Hal ini tampak dari sikapnya yang terburu-buru meminta
harta warisan lalu pergih ke negeri jauh.
Sikap yang tidak senang aturan ayah dan suka memberontak terhadap
perintah dan nasehat orang tua. Hal ini maksudnya adalah orang-orang yang jauh
dari Allah adalah dimana keadaan itu disebut keadaan berdosa. Orang-orang yang
suka memberontak Allah adalah orang-orang yang hidupnya dalam keadaan berdosa.
Termasuk sang pemuda yang juga tidak taat terhadap ayahnya dia juga mengalami
keadaan yang jauh dari keinginan ayahnya sendiri dan hidup bebas tanpa
pengawasan dari sang ayah membawa hidupnya ke dalam situasi yang membuatnya
menderita,
2. Pada perikop ini dapat pula kita
artikan bahwa Keadaan dosa adalah keadaan dimana kita menghabiskan segala
sesuatu; di sana ia memboroskon harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya
(ayat 13). Menghabiskannya bersama-sama dengan pelacur (ay. 30), dan sebentar
saja sudah dihabiskannya semuanya (ay. 14). Ia membeli pakaian yang
bagus-bagus, menghabiskan banyak uang untuk makanan dan minuman, bergaya hidup
mewah. Dalam kehidupan di dunia ini, orang yang hidup berfoya-foya menghabiskan
apa yang dimilikinya dalam waktu sekejap. Apa yang dimiliki baik harta, materi,
tenaga, waktu haruslah digunakan dengan sebaik-baiknya sebagai
pertanggungjawaban kepada Tuhan yang sudah memberikan.
3. Kehidupan yang boros
mengakibatkan kemelaratan. Hidup yang foya-foya pada akhirnya, mungkin dalam
waktu singkat, akan membuat orang kelaparan mencari sesuap nasi. Ketika
kehidupan boros anak muda ini membuatnya kelaparan. Dan kelaparannya membawanya
kepada perbudakan.
Kesimpulan/Refleksi
Dari kehidupan seorang pemuda, kita
dapat belajar bahwa hidup yang berfoya-foya dan boros akan merugikan diri kita
dan membuat kemiskinan. Dengan demikian, lewat Firman Tuhan ini kita diberi
sebuah pemahaman bahwa pilihan hidup untuk berhemat adalah tepat dan baik di
mata Tuhan. Mempertanggungjawabkan segala anugerah Tuhan dengan sikap berhati-hati
dan takut akan Tuhan. Berhemat bukan berarti mengajarkan kita untuk pelit
terhadap sesama, tetapi dengan sikap berhati-hati maksudnya adalah
mempergunakan uang, waktu dan hal-hal lain dengan baik dan bermanfaat terlebih
untuk kemuliaan Tuhan. Berbagi dengan sesama yang membutuhkan adalah bagian
dari hidup hemat yang mempergunakan uangnya dengan hati-hati dan cermat.
Penerapan
Kelas
kecil: - menyebutkan
arti hemat secara sederhana.
-
Menceritakan
tentang anak bungsu dengan sederhana.
Kelas
besar : - menceritakan
ulang kisah anak bungsu dalam teks
-
Menyebutkan
manfaat berhemat dalam kehidupan sehari-hari
-
Menceritakan
pengalaman saat berhemat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar