Kotbah 05 April 2020
Nats : Yohannes 12:12-19
Tema :
Jalo ma Rajamu na roh in
Bapa/inang nahinargani Tuhanta Jesus
Kristus, minggu ini, kita akan memasuki apa yang sudah ditetapkan yakni minggu
Palmarum, yaitu peringatan masuknya Yesus ke kota Yerusalem yang memberikan
pesan suci. Dan juga merupakan minggu pembukaan perayaan paskah. Memasuki
minggu sebelum Yesus akan di salib. Pada minggu palmarum ada beberapa simbol
yang mau kita pelajari dari peristiwa Yesus parmasukni Jesus hu Jerusalem.
Persiapan proses penyaliban-Ni.
Ada dua alasan di sini bapa/inang,
kenapa Yesus di elu-elukan oleh orang banyak pada waktu itu. 1. Sorak-sorai,
pujian datang kepada Yesus atas kekaguman pada kuasa dan mujizat-mujizat yang
dilakukan Yesus. Apalagi pada waktu itu, masih viral bagaimana mujizat yang
dilakukan oleh Yesus terhadap si Lazarus. Lazarus pada waktu itu, sudah dalam
sudah mati dan dikuburkan selama 4 hari. tetapi Yesus membangkitkan dia dan
menjadi sehat kembali. Lazarus dan orang-orang banyak yang merasakan dan
menyaksikan kebangkitan itu, kemudian bersaksi sehingga mereka menjadi orang-orang
yang dengan semangat bersorak dan berseru-seru “Hosana, diberkatilah Dia yang
datang dalam nama Tuhan. Dialah Raja Israel”. Alasan kedua, adalah karena itu adalah bagian penggenapan rencana
dan nubuat yang sudah ditetapkan. Hal ini sudah dituliskan di dalam Zakharia 9:9
“Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”
“Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”
BS: Marmalas ni uhur tumang ma ho, ale boru Sion,
marolob-olob ma ho, ale boru Jerusalem! Tonggor ma, na roh do Rajamin marayak
ho; parpintor anjaha siparmonang do Ia. Toruh do uhur-Ni anjaha mangajak
halode, anak ni halode boru-boru.
Naibata domma mambahen skenario na
terbaik na laho pasaudhon harosuh ronsi age pajongjonghon harajaon-Ni na
barangkali berbeda janah lang songon na iarapkon bani sekelompok besar na adong
bani panorang ai. Adong piga-piga simbol/hal-hal na menarik marhitei peristiwa
na boi ididah hita:
1. Daun Palem
Daun palem sebagai kedamaian dan juga
simbol kemenangan. Parmasukni Jesus hu Jerusalem sebagai lambang Kemenangan na
ibahen Jesus. Aima kemenangan melawan kuasa ni sibolis, melawan kematian daging
karena dousa. Raja yang datang adalah raja damai, memberikan kebebasan dan kemenangan. Melihat
bagaimana Yesus yang sudah luar biasa penuh kuasa dan mujizat, banyak orang
datang dan memberikan pengakuan bahwa “ Dia Yesus adalah Raja Israel” raja yang
akan membebaskan mereka. Bukan hanya itu, tanpa segan-segan banyak dari mereka yang
menebarkan daun-daun palem dijalanan bahkan dalam injil sinoptik lain, matius
markus dan yohanes menyebutkan bahwa mereka juga menebarkan pakaian mereka i
dalan sebagai simbol perubahan orientasi hidup dan bukti bahwa pada akhirnya
juga kita akan meninggalkan hal-hal keinginan duniawi menuju keinginan sorgawi
yaitu hati dan pikiran kita tertuju
kepada Kristus sang Raja damai itu.
2.
Keledai
Muda. Simbol keledai” dalam peristiwa Minggu Palma juga menjadi gambaran
kerendahan hati
Pada peristiwa ini kita diajak untuk menyambut Kristus dan membiarkan diri kita dipimpin oleh-Nya. Kita juga diingatkan bahwa sikap yang terbaik untuk membiarkan diri dipimpin oleh Tuhan adalah sikap yang mau tunduk kepada-Nya, seperti keledai itu yang ditunggangi oleh Kristus. Adalah untuk menerima dan menyambut Yesus di dalam hidup diperlukan hati yang mau merendah di hadapan Tuhan. mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya.
Pada peristiwa ini kita diajak untuk menyambut Kristus dan membiarkan diri kita dipimpin oleh-Nya. Kita juga diingatkan bahwa sikap yang terbaik untuk membiarkan diri dipimpin oleh Tuhan adalah sikap yang mau tunduk kepada-Nya, seperti keledai itu yang ditunggangi oleh Kristus. Adalah untuk menerima dan menyambut Yesus di dalam hidup diperlukan hati yang mau merendah di hadapan Tuhan. mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya.
Murid-murid Yesus juga yang ikut bersama
Yesus pada awalnya bingung tetapi kemudian menyadari bahwa rencana penggenapan
itu semakin nyata dan sempurna. Orang-orang banyak seketika itu juga banyak
yang menjadi pengikut Yesus yang memuja dan mengagung-agungkan nama-Nya.
Membuat orang-orang farisi semakin geram melihat Yesus. Mereka berulangkali
harus mengubah strategi untuk menangkap Yesus, dan membinasakan Dia tetapi
Yesus sendiri harus menyampaikan pengajaran-pengajaran dan pesan-pesan penting
sebelum hal itu terjadi.
Melalui kotbah ibagas minggu Palmarum on, adong 3 na sihol
pesan utama na boi ijolom hita:
1.
Selalu
mengingat kebaikan Tuhan. Tontu bani pardalanan ni goluhta domma buei tantangan
hangaluton na ialami hita ronsi ilopusi hita. Tontu iakui hita do bahasa
gogohta ai sumberni aima humani Tuhan Naibatata do. Bueinan do sasintongni
alasanta untuk memuji Tuhan daripada meragukan Kuasa Tuhan. kebaikan dan
mujizat yang dialami para murid dan orang banyak yang menyaksikan pada waktu
itu, menggerakkan hati dan pikiran mereka untuk memuji dan memuliakan bahkan
memberikan pengakuan tentang Yesus Kristus. Dan itu jugalah yang selalu kita
lakukan. Selalu mengingat dan mengakui kebaikan Tuhan di dalam kehidupan kita
sehari-hari.
2.
Orang-orang
banyak yang mengelu-elukan Yesus kemudianpada akhirnya menghujat dan
menyalibkan Yesus. Mase boi sonai? Mereka kecewa? Karena apa yang mereka
harapkan tidak terwujud. Harapan dan impian mereka untuk menyambut sang Raja
yang akan menyelamatkan mereka bak seorang raja yang akan memberikan mereka
kemewahan dan ketenaran ternyata tidak seperti itu. bahkan Yesus akan
menghadapi sebuah pengadilan yang akan membuat dia sebagai terhukum.
Bapa/inang nahinargani Tuhanta Jesus,
domma hampir piga-piga bulan, masalah Corona sebagai masalah utama i
tongah-tongah pargoluhanta. Hal on berdampak bani haganupan aspek pargoluhanta.
Mempengaruhi pola pikir, kebiasaan, bahkan ra do homa haporsayaonta tene. Lang
pitah ai, muncul paradigma-pardigma beragam dan luar biasa berkaitan soal
corona on. Adong do mangkatahon bahasa corona on aima sada hite ni Naibata
mambere kesadaran hubani jolma ase lambin peka hubani lingkungan, cara ni
Naibata ase jolma semakin menyadari segala kesalahan-kesalahanta. Adong homa do
na mangkatahon bahasa Corona sebagai bentuk ujian iman : kenapa takut kepada
corona, takutlah kepada Tuhan, sehingga dalam situasi tersebut memaksakn diri
untuk berkumpul bersama dan beribadah. Adong do homa mangkatahon bahasa masa
on, aima masa pembuktian untuk menunjukkan ketaatan kepada pemerintah sebagai
hamba Allah serta masa dimana menunjukkan solidaritas kepada sesama yang sedang
membutuhkan bantuan sosial pakon na legan. Pemikiran lain, mengatakan bahwa
corona menyadarkan umat percaya bahwa beribadah kepada Allah bukan hanya di
gedung tetapi di rumah. Bahkan dalam
kitab suci dituliskan bahwa beribadah yang sejati bukan soal tempat di mana
beridahnya. Tetapi beribadah di dalam Roh dan kebenaran. Dan banyak sekali yang
muncul pernyataan-pernyataan soal korona ini. Tentunya kita mengamini bahwa pemikiran-pemikiran
ini yang positif dan membangun iman kita, kita
menerima itu merupakan suara Roh Kudus di dalam hati kita masing-masing.
Tetapi bagi sebagian orang mungkin
ini adalah saat-saat mempertanyakan otoritas gereja, mempertanyakan dimana
Kuasa Tuhan. ketika doa syafaat sudah dipanjatkan, ketika air mata sudah
menetes, ketika perubahan belum ada, bahkan korban semakin bertambah, belum
lagi, ada juga tidak sedikit dokter,
perawat bahkan hamba Tuhan yang sudah menjadi korban
covid-19. Kemudian kita bertanya, Tuhan ada di mana, dan mengapa belum menjawab
dan memberi pertolongan??.
Bapa/inang ulang ma namin tene songon
halak na mabuei ai hita, kita yang dulunya adalah pengikut dan pengagum Tuhan
yang setia, tetapi halani situasi na sulit, mahol na ialami hita ibagas goluhta
on, gabe ihujat hita Tuhanta ai, kita tinggalkan Tuhan kita, kita meragukan
kuasa ni Tuhanta ai. Dalam mengalami kesulitan, persoalan ni goluhta adong na
penting na ulang ilupahon hita tene aima “berfokus pada Tuhan bukan pada
masalah”
Sada pengalaman nyata humbani sahalak
Seorang penulis lagu na marjudul “it is well with my soul” anggo bani haleluya
aima no. 251 “sonang do uhurhu” boi gabe penguatan hubanta:
Adong sada na margoran Horatio
spafford yang bekerja sebagai penasihat hukum di sebuah perusahaan janah
sekaligus seorang dosen. Dia juga seorang penatua di sebuah gereja presbyterian
bersama istrinya juga terlibat pelayanan di sekolah minggu. Dan mereka memiliki
4 anak.
Bani bulan november tahun 1873, sidea
berencana pergi ke Ingrris untuk mengunjungi keluarga. Tapi halani adong
persoalan na mendesak maningon si saloseihon i perusahaan ija ia horja. Akhirni
berangkatma istrini pakon haopatsi niombahni ai. Jadi spafford menyusul
dobkonsi salosei ma lobei horjani ai.
Jadi
bapa/inang damai itu hendaklah senantiasa ada di dalam hati kita. Hendaklah
Yesus yang mengusai jiwa kita, maka kekuatan dan kedamaian, ketenangan akan
menjadi milik kita. Bahkan Dia yang sudah menyiapkan keselamatan jiwa kita
tentunya selalu memberikan rencan indah di dalam perjalanan hidup kita. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar