Jumat, 17 April 2020

Yohannes 12:12-19

Kotbah  05 April 2020
Nats                 : Yohannes 12:12-19
Tema               : Jalo ma Rajamu na roh in
Bapa/inang nahinargani Tuhanta Jesus Kristus, minggu ini, kita akan memasuki apa yang sudah ditetapkan yakni minggu Palmarum, yaitu peringatan masuknya Yesus ke kota Yerusalem yang memberikan pesan suci. Dan juga merupakan minggu pembukaan perayaan paskah. Memasuki minggu sebelum Yesus akan di salib. Pada minggu palmarum ada beberapa simbol yang mau kita pelajari dari peristiwa Yesus parmasukni Jesus hu Jerusalem. Persiapan proses penyaliban-Ni.
Ada dua alasan di sini bapa/inang, kenapa Yesus di elu-elukan oleh orang banyak pada waktu itu. 1. Sorak-sorai, pujian datang kepada Yesus atas kekaguman pada kuasa dan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus. Apalagi pada waktu itu, masih viral bagaimana mujizat yang dilakukan oleh Yesus terhadap si Lazarus. Lazarus pada waktu itu, sudah dalam sudah mati dan dikuburkan selama 4 hari. tetapi Yesus membangkitkan dia dan menjadi sehat kembali. Lazarus dan orang-orang banyak yang merasakan dan menyaksikan kebangkitan itu, kemudian bersaksi sehingga mereka menjadi orang-orang yang dengan semangat bersorak dan berseru-seru “Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Dialah Raja Israel”. Alasan kedua,  adalah karena itu adalah bagian penggenapan rencana dan nubuat yang sudah ditetapkan. Hal ini sudah dituliskan di dalam Zakharia 9:9
“Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”
BS: Marmalas ni uhur tumang ma ho, ale boru Sion, marolob-olob ma ho, ale boru Jerusalem! Tonggor ma, na roh do Rajamin marayak ho; parpintor anjaha siparmonang do Ia. Toruh do uhur-Ni anjaha mangajak halode, anak ni halode boru-boru.
            Naibata domma mambahen skenario na terbaik na laho pasaudhon harosuh ronsi age pajongjonghon harajaon-Ni na barangkali berbeda janah lang songon na iarapkon bani sekelompok besar na adong bani panorang ai. Adong piga-piga simbol/hal-hal na menarik marhitei peristiwa na boi ididah hita:
1.      Daun Palem
Daun palem sebagai kedamaian dan juga simbol kemenangan. Parmasukni Jesus hu Jerusalem sebagai lambang Kemenangan na ibahen Jesus. Aima kemenangan melawan kuasa ni sibolis, melawan kematian daging karena dousa. Raja yang datang adalah raja damai,  memberikan kebebasan dan kemenangan. Melihat bagaimana Yesus yang sudah luar biasa penuh kuasa dan mujizat, banyak orang datang dan memberikan pengakuan bahwa “ Dia Yesus adalah Raja Israel” raja yang akan membebaskan mereka. Bukan hanya itu,  tanpa segan-segan banyak dari mereka yang menebarkan daun-daun palem dijalanan bahkan dalam injil sinoptik lain, matius markus dan yohanes menyebutkan bahwa mereka juga menebarkan pakaian mereka i dalan sebagai simbol perubahan orientasi hidup dan bukti bahwa pada akhirnya juga kita akan meninggalkan hal-hal keinginan duniawi menuju keinginan sorgawi yaitu hati dan pikiran kita  tertuju kepada Kristus sang Raja damai itu.
2.      Keledai Muda. Simbol keledai” dalam peristiwa Minggu Palma juga menjadi gambaran kerendahan hati
Pada peristiwa ini kita diajak untuk menyambut Kristus dan membiarkan diri kita dipimpin oleh-Nya. Kita juga diingatkan bahwa sikap yang terbaik untuk membiarkan diri dipimpin oleh Tuhan adalah sikap yang mau tunduk kepada-Nya, seperti keledai itu yang ditunggangi oleh Kristus.  Adalah untuk menerima dan menyambut Yesus di dalam hidup diperlukan hati yang mau merendah di hadapan Tuhan. mengakui keterbatasan dan ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya.
Murid-murid Yesus juga yang ikut bersama Yesus pada awalnya bingung tetapi kemudian menyadari bahwa rencana penggenapan itu semakin nyata dan sempurna. Orang-orang banyak seketika itu juga banyak yang menjadi pengikut Yesus yang memuja dan mengagung-agungkan nama-Nya. Membuat orang-orang farisi semakin geram melihat Yesus. Mereka berulangkali harus mengubah strategi untuk menangkap Yesus, dan membinasakan Dia tetapi Yesus sendiri harus menyampaikan pengajaran-pengajaran dan pesan-pesan penting sebelum hal itu terjadi.
Melalui kotbah ibagas minggu Palmarum on, adong 3 na sihol pesan utama na boi ijolom hita:
1.      Selalu mengingat kebaikan Tuhan. Tontu bani pardalanan ni goluhta domma buei tantangan hangaluton na ialami hita ronsi ilopusi hita. Tontu iakui hita do bahasa gogohta ai sumberni aima humani Tuhan Naibatata do. Bueinan do sasintongni alasanta untuk memuji Tuhan daripada meragukan Kuasa Tuhan. kebaikan dan mujizat yang dialami para murid dan orang banyak yang menyaksikan pada waktu itu, menggerakkan hati dan pikiran mereka untuk memuji dan memuliakan bahkan memberikan pengakuan tentang Yesus Kristus. Dan itu jugalah yang selalu kita lakukan. Selalu mengingat dan mengakui kebaikan Tuhan di dalam kehidupan kita sehari-hari.
2.      Orang-orang banyak yang mengelu-elukan Yesus kemudianpada akhirnya menghujat dan menyalibkan Yesus. Mase boi sonai? Mereka kecewa? Karena apa yang mereka harapkan tidak terwujud. Harapan dan impian mereka untuk menyambut sang Raja yang akan menyelamatkan mereka bak seorang raja yang akan memberikan mereka kemewahan dan ketenaran ternyata tidak seperti itu. bahkan Yesus akan menghadapi sebuah pengadilan yang akan membuat dia sebagai terhukum.
Bapa/inang nahinargani Tuhanta Jesus, domma hampir piga-piga bulan, masalah Corona sebagai masalah utama i tongah-tongah pargoluhanta. Hal on berdampak bani haganupan aspek pargoluhanta. Mempengaruhi pola pikir, kebiasaan, bahkan ra do homa haporsayaonta tene. Lang pitah ai, muncul paradigma-pardigma beragam dan luar biasa berkaitan soal corona on. Adong do mangkatahon bahasa corona on aima sada hite ni Naibata mambere kesadaran hubani jolma ase lambin peka hubani lingkungan, cara ni Naibata ase jolma semakin menyadari segala kesalahan-kesalahanta. Adong homa do na mangkatahon bahasa Corona sebagai bentuk ujian iman : kenapa takut kepada corona, takutlah kepada Tuhan, sehingga dalam situasi tersebut memaksakn diri untuk berkumpul bersama dan beribadah. Adong do homa mangkatahon bahasa masa on, aima masa pembuktian untuk menunjukkan ketaatan kepada pemerintah sebagai hamba Allah serta masa dimana menunjukkan solidaritas kepada sesama yang sedang membutuhkan bantuan sosial pakon na legan. Pemikiran lain, mengatakan bahwa corona menyadarkan umat percaya bahwa beribadah kepada Allah bukan hanya di gedung tetapi di rumah. Bahkan  dalam kitab suci dituliskan bahwa beribadah yang sejati bukan soal tempat di mana beridahnya. Tetapi beribadah di dalam Roh dan kebenaran. Dan banyak sekali yang muncul pernyataan-pernyataan soal korona ini. Tentunya kita mengamini bahwa pemikiran-pemikiran ini yang positif dan membangun iman kita, kita  menerima itu merupakan suara Roh Kudus di dalam hati kita masing-masing.

Tetapi bagi sebagian orang mungkin ini adalah saat-saat mempertanyakan otoritas gereja, mempertanyakan dimana Kuasa Tuhan. ketika doa syafaat sudah dipanjatkan, ketika air mata sudah menetes, ketika perubahan belum ada, bahkan korban semakin bertambah, belum lagi,  ada juga tidak sedikit dokter, perawat  bahkan  hamba Tuhan yang sudah menjadi korban covid-19. Kemudian kita bertanya, Tuhan ada di mana, dan mengapa belum menjawab dan memberi pertolongan??.
Bapa/inang ulang ma namin tene songon halak na mabuei ai hita, kita yang dulunya adalah pengikut dan pengagum Tuhan yang setia, tetapi halani situasi na sulit, mahol na ialami hita ibagas goluhta on, gabe ihujat hita Tuhanta ai, kita tinggalkan Tuhan kita, kita meragukan kuasa ni Tuhanta ai. Dalam mengalami kesulitan, persoalan ni goluhta adong na penting na ulang ilupahon hita tene aima “berfokus pada Tuhan bukan pada masalah”
Sada pengalaman nyata humbani sahalak Seorang penulis lagu na marjudul “it is well with my soul” anggo bani haleluya aima no. 251 “sonang do uhurhu” boi gabe penguatan hubanta:
Adong sada na margoran Horatio spafford yang bekerja sebagai penasihat hukum di sebuah perusahaan janah sekaligus seorang dosen. Dia juga seorang penatua di sebuah gereja presbyterian bersama istrinya juga terlibat pelayanan di sekolah minggu. Dan mereka memiliki 4 anak.
Bani bulan november tahun 1873, sidea berencana pergi ke Ingrris untuk mengunjungi keluarga. Tapi halani adong persoalan na mendesak maningon si saloseihon i perusahaan ija ia horja. Akhirni berangkatma istrini pakon haopatsi niombahni ai. Jadi spafford menyusul dobkonsi salosei ma lobei horjani ai.

            Jadi bapa/inang damai itu hendaklah senantiasa ada di dalam hati kita. Hendaklah Yesus yang mengusai jiwa kita, maka kekuatan dan kedamaian, ketenangan akan menjadi milik kita. Bahkan Dia yang sudah menyiapkan keselamatan jiwa kita tentunya selalu memberikan rencan indah di dalam perjalanan hidup kita. Amin
                                                                                                                                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...