Jumat, 17 April 2020

2 petrus 4:12-19


“ Malas ni uhur ibagas Tuhan”
Nasiam hasoman nahinaholongan ni Tuhan. anggo isukkun hita secara pribadi aha do na gabe pergumulanta, tontu anggo sukkup panorang huahap ra do hita memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Janah haganupan hita pasti pernah mengalami apa yang disebut sebagai pergumulan. Pergumulan itu tidak mengenal siapapun, karena setiap orang/insan pasti mengalaminya. Baik anak kecil hingga orang dewasa bahkan para orang tua yang sudah lanjut usia pasti akan mengalami atau menghadapi sebuah situasi yang tidak diharapkan atau apa yang sering orang katakan sebagai “pergumulan”.  Jika demikian apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya di dalam menghadapi pergumulan yang terjadi di dalam kehidupan kita? Atau bagaimanakah sikap kita menghadapi pergumulan-pergumulan yang terjadi?
Pada hari ini bapa/inang kita akan belajar dari Firman Tuhan bagaimana kita memandang persoalan-persoalan yang terjadi di dalam kehidupan kita sehari-hari:
1.    Bahwa persoalan-persoalan yang kita hadapi adalah bagian bentuk daripada ujian iman,
Ujian iman atau proses pembentukan karakter, hati dan sikap kita yang berpedoman sesuai dengan yang Tuhan mau. Gati do bapa/inang hal-hal na masa ibagas goluhta aima cara ni Tuhan laho mambere kesadaran yang baru, pengakuan yang sungguh-sungguh atas kuasa Tuhan. dan keterbatasan diri sebagai manusia.  jadi kita bisa katakan bahwa penderitaan membawa hidup kita semakin dekat dengan Tuhan.
2.    Menderita karena Kristus
Rasul Petrus juga menasihati agar setiap orang percaya atau pengikut Kristus atau orang Kristen tidak menjadi malu jika ia menderita?  Kata menderita yang dimaksudkan ayat nas adalah menderita karena nama Kristus.  Karena mempertahankan iman percayanya kepada Kristus seseorang rela dikucilkan oleh keluarga, dijauhi oleh teman dan sahabat, dan diperlakukan tidak adil oleh sesama;  itulah penderitaan.  "Martuah do nasiam anggo hona risa-risa nasiam halani goran i Kristus, ai sogop bani nasiam tonduy hasangapon, Tonduy ni Naibata".  kita bisa lihat ayat 14. 
Contoh-contoh bentuk penderitaan karena Kristus/karena menjalankan kebenaran:
-          Waktu dan tenaga. Ibagas goluhta, sering do iperhadaphon bani situasi na mamilih penggunaan waktu. Waktu yang kita gunakan biasanya untuk apa?untuk kesenangan kita sendiri atau Tuhan. contohni ma partonggoan, sipata sodapan do manonton i bioskop, atappe martumpu2 pakon hasoman marimbang bersekutu pakon Tuhan riap pakon hasoman sahaporsayaon.  Ra do hita merasa susah hati, halani situasi on? Pasti halani akan membuat kenyamanan dan rasa aman kita terganggu karena harus memilih keinginan daging dan keinginan Tuhan. menderitakah kita pada saat seperti ini? Pasti bisa saja dikategorikan menderita.
-          Melakukan kebaikan disaat tidak ada yang menghargai dan menganggap. Bahat do halak na marungut-ungut anjaha menyerah ibagas situasi na songon on. Sihol menjadi orang yang baik dan melakukan hal-hal na madear hubani hasoman tapi lang ihargai, malah bukan balasan yang baik yang didapatkan tetapi fitnah, hinaan, atau apapun hal yang negatif. Nasiam hasoman anggo situasi na songon i dompakkon hita Hata ni Tuhan mangkatahon “Martuah ma hita ijai” martuah dalam bahasa indonesia adalah “berbahagia”
-          Mempertahankan kebenaran. Adakah orang yang menderita karena mempertahankan kebenaran? seperti doding sikolah minggu “maju tak gentar membela yang benar” atau sebaliknya “maju tak gentar membela yang bayar”. Ada sebuah kisah.
Pada Juni 2007, sejumlah guru yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Bunda diejek, dipermalukan, dituduh sok suci, dan diancam secara fisik. Derita pun berlanjut, mereka dipaksa untuk mengundurkan diri, bahkan diberhentikan dari profesinya. Penyebabnya? Ternyata mereka membongkar kebocoran dan kecurangan dalam ujian nasional.

Kisah di atas hanya salah satu dari sekian banyak penderitaan yang dialami orang-orang yang berani menyatakan kebenaran di tengah kehancuran moral. Yohanes Pembaptis pun mengalami penderitaan yang sangat tragis. Ya, ia dengan berani menegur raja Herodes karena telah mengambil Herodias, istri Filipus, saudara Herodes sendiri (ay. 4; bdk. Im 18:16). Risikonya pun jelas, Herodes murka dan memerintahkan agar Yohanes ditangkap, dibelenggu, dan dipenjara. Tidak cukup sampai di situ. Lewat sebuah skenario jahat, hidupnya harus berakhir dengan kepalanya dipenggal (ay. 6-10). Demi sebuah prinsip, Yohanes Pembaptis rela untuk menderita. Demi membela sebuah nilai luhur, ia rela menanggung risiko dihukum mati di tangan seorang penguasa lalim.

Kisah saya secara pribadi............ (boleh diceritakan ya nang perjuangan imannya juga..............hehhehehe)
Hidup untuk memperjuangkan kejujuran dan kebenaran nilai moral ternyata tidak selalu mudah. Perjuangan dan keberanian kita bisa berbuah penderitaan, bahkan mungkin ancaman kehilangan nyawa. Menyadari harga yang harus dibayar ini, akankah kita tetap berdiri sebagai orang percaya yang ditetapkan Tuhan untuk menyatakan kebenaran di tengah angkatan yang bengkok hatinya?
Sebaliknya janganlah juga seseorang harus menderita karena melakukan perbuatan dosa atau melanggar hukum, itu yang seharusnya membuatnya malu.  Bani ayat 15 “Ulang ma adong hun tongah-tongahnasiam na manaron halani mamunuh, barang manangko, barang marjahat, barang halani mangurus na so siurusonni”.
3.    Ada upah yang akan kita terima.
Ayat 16-19 dikatakan “Barang ise na marsitaronon halani halak Kristen ia, ulang ma maila ia, tapi ipasangap ma Naibata marhitei goranni. Ai jumpah ma panorangni madabuh uhum, mamungkah humbani rumah ni Naibata. Ai anggo parlobei humbanta, sonaha ma ujung ni na so mambalosi ambilan na madear, na humbani Naibata? Ai anggo narus lang maluah halak parpintor, huja ma gakni halak na so daulat anjaha sipardousa ai?
Semua orang pasti punya pengharapan, yang berbeda adalah kepada siapa seseorang itu berharap dan apa yang diharapkannya. Sama seperti cita-cita, semua orang punya cita-cita, tapi setiap orang berbeda-beda cita-citanya. Kita sebagai orang percaya diajarkan oleh Alkitab bahwa pengharapan kita adalah Yesus. Dan Yesus mengajarkan, bahwa ada “upah besar di Sorga”, dan ini jadi pengharapan kita. Semua orang bekerja karena tahu dengan pasti bahwa nanti pada saatnya akan menerima upah, seperti para tukang bangunan dan pedagang. Ikut Tuhan juga begitu, Tuhan sudah menyediakan upah untuk setiap jerih payah kita, dan dari semua bentuk upah ada yang namanya upah besar di Sorga. Dan ini menjadi target saya sejak saya ikut Tuhan. Dan saya yakin rasul Petrus  juga mengenal upah ini, bukankah ini terbukti? Karena untuk mendapatkan upah ini tidak bisa didapatkan dengan cara hanya sekedar rajin memberi persembahan di gereja. Upah yang satu ini hanya didapatkan dengan memikul salib. Seperti apa pikul salib ituseperti penjelasan kotbah/ambilan kita pada malam hari ini, ? Arti sederhananya adalah upah ini kita miliki jika kita rela dianiaya untuk mempertahankan kebenaran Firman Tuhan yang kita yakini; jika kita rela ditolak, dicacimaki karena mau menyenangkan Tuhan; dan jika kita rela difitnah karena mau melakukan Firman Tuhan. Mudah bukan? Yang pasti adalah bahwa jika kita mengalami penderitaan (dicela, dicaci maki, diolok, dihina, ditolak, dicuekin, difitnah dan dianiaya) dalam menyenangkan hati Tuhan dengan menjadi orang yang taat dan setia, pengharapan akan upah ini seharusnya membuat kita menikmati 3 hal, yaitu berbahagia, bersukacita dan bergembira. Jadi, tanda jelas dari orang yang berharap akan upah ini hidupnya tetap berbahagia, penuh sukacita dan bergembira sekalipun ditengah-tengah penderitaan karena mau tetap taat dan setia kepada Tuhan Yesus. Semoga kita semakin kuat dan selalu diberikan kekuatan daripada Tuhan. amin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsiran 1 Samuel 25:14-19

  1 Samuel 25:14-19 Menjadi Perempuan Bijak 25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangny...